Search
Close this search box.

Mengenal Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta dan Surakarta, Adat Sakral Masyarakat Jawa

Tradisi malam Satu Suro menjadi sebuah adat sakral yang masih dipercaya masyarakat Jawa, terutama Yogyakarta dan Surakarta. Tanggal satu Suro merupakan penanda tahun baru di penanggalan Jawa, yang bertepatan juga dengan tanggal satu Muharram di kalender Hijriyah (tahun baru Islam). 

Sebagai bulan yang istimewa, masyarakat Jawa selalu menyelenggarakan berbagai tradisi unik untuk menyambut tahun baru Saka. Agar kamu bisa lebih memaknai datangnya bulan Suro, simak pembahasan lengkap mulai dari sejarah hingga tradisi apa saja yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta dan Solo berikut ini!

Sejarah Tradisi Suro

Awal mula tradisi Satu Suro ini terjadi pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Bulan Suro dalam penanggalan Jawa dapat diartikan dengan bulan yang suci serta menyimpan energi spiritual yang tinggi. 

Di bulan Suro, seluruh masyarakat Jawa yang masih mempercayai tradisi Kejawen diharapkan untuk melakukan introspeksi diri serta memanjatkan doa untuk satu tahun berikutnya. Karena Suro dianggap sebagai bulan yang sakral untuk masyarakat Jawa, muncullah sebuah larangan tak tertulis mengenai “dilarangnya menyelenggarakan hajat atau pesta saat bulan Suro datang”.

Usut punya usut larangan ini bukanlah sebuah mitos belaka. Dilansir dari sumber sejarah yang ada, Sultan Agung  Hanyakrakusuma selaku raja ketiga (1613–1645) dari Kerajaan Mataram Islam merupakan sosok yang menciptakan penanggalan Jawa yang juga terdapat unsur kalender Islam di dalamnya. Proses penyatuan kalender Jawa dan Islam ini terjadi pada Jumat Legi, Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi.

Pada saat proses penyusunan kalender Jawa atau populer juga dengan sebutan kalender Sultan Agungan, beliau ingin membuat satu waktu dimana seluruh rakyat dari berbagai kalangan untuk mensucikan diri dari segala hal buruk dan introspeksi atas berbagai hal yang terjadi sebelumnya. 

Baca Juga :   Museum Batik Yogyakarta: Kolase Warisan Leluhur dalam Berbagai Motif dan Corak

Akhirnya, pada bulan Suro inilah beliau ingin rakyatnya untuk mengolah tata batin mereka dari hal duniawi. Sikap inilah yang kemudian membuat banyak orang yang tidak menggelar perayaan atau pesta apapun pada bulan Suro, karena fokus pada introspeksi diri. 

Tradisi Suro pun terus dilestarikan oleh masyarakat Jawa terutama di Jogja serta Solo walaupun sudah beberapa abad berlalu. Rangkaian tradisi bulan Suro juga tak hanya jadi sebuah ritual kebudayaan saja, namun juga menjadi magnet pariwisata di dua kota tersebut.  

Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta

Source: Website Resmi Keraton Yogyakarta

Setelah era Kerajaan Mataram Islam akhirnya terdapat dua entitas yang saat ini ada di Yogyakarta yakni Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pura Pakualaman. Kedua entitas tersebut memiliki perayaan tradisi malam satu Suro yang sedikit berbeda. Di bawah ini adalah daftar tradisi yang dilakukan pada bulan Suro dari dua kerajaan serta masyarakat di Yogyakarta:

Jamasan Pusaka

Jamasan Pusaka (Siraman Pusaka) jadi tradisi malam Suro yang rutin digelar Keraton Yogyakarta untuk mensucikan benda-benda pusaka yang ada seperti kereta, tosan aji (senjata), gamelan, dan lainnya. Upacara Jamasan Pusaka tergolong ke dalam warisan budaya tak benda yang bertujuan untuk menghormati leluhur serta merawat benda bersejarah. 

Umumnya, Jamasan Pusaka diselenggarakan pada selasa kliwon dan atau Jumat Kliwon di bulan Suro (Muharram). Acara pensucian pusaka diawali dengan Jamasan Pusaka Tumbak Kanjeng Kiai Ageng Plered, kemudian dilanjutkan dengan pusaka-pusaka kuno lainnya.

Lampah Budaya Mubeng Beteng

Puncak tradisi malam Satu Suro yaitu Mubeng Beteng. Mubeng Beteng adalah mengitari kawasan beteng Keraton Yogyakarta dengan berlawanan arah jarum jam. Tradisi ini diikuti oleh para abdi dalem serta masyarakat umum untuk berjalan tanpa bicara (Tapa Bisu) serta tidak menggunakan alas kaki. 

Sebelum pelaksanaan acara Mubeng Beteng, pihak keraton akan melakukan pembacaan doa untuk akhir tahun, doa awal tahun, serta doa bulan Suro. Selanjutnya, prosesi disambung dengan pemberian restu dari pemangku agama Keraton Yogyakarta.

Baca Juga :   Tour de Ambarrukmo 2024, Gelaran Event Sepeda Terbesar di Jogja Bangkitkan Sport Tourism

Rute Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta melingkupi area Keben (Kamandengan Lor) – Ngabean – Pojok Beteng Kulon – Plengkung Gading – Pojok Beteng Wetan – Jalan Ibu Ruswo – Alun-Alun Utara – Keben dengan total jarak 4 kilometer. Suasana hening, sunyi, dan khidmat akan menyelimuti prosesi Mubeng Beteng ini karena menjadi salah satu momen untuk merefleksikan diri tentang apa yang terjadi dalam sepanjang tahun belakangan.

Tapa Bisu

Tapa Bisu adalah bagian dari acara Mubeng Beteng yang merupakan tradisi malam Satu Suro. Pada prosesi ini biasanya peserta kirab tidak diperbolehkan mengeluarkan suara, bebunyian, serta berbicara sepanjang rute. Ritual Tapa Bisu biasanya diawali dengan lantunan tembang macapat yang terselip doa-doa serta harapan untuk satu tahun ke depan. 

Makna filosofis dari tradisi Tapa Bisu ini adalah introspeksi diri dan meminta pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa. Acara Tapa Bisu dan Mubeng Beteng menjadi tradisi Suro yang dinantikan oleh banyak wisatawan baik domestik maupun asing. 

Menyantap Bubur Suran (Bubur Suro)

Setelah menjalankan seluruh prosesi, masyarakat bisa menyantap Bubur Suran di area Keraton Yogyakarta yang memiliki cita rasa gurih cenderung manis. Bubur Suran dimasak menggunakan beras yang dibumbui santan, garam, serai, dan jahe, kemudian ditambahkan beberapa lauk pauk seperti opor ayam, sambal goreng, serta taburan tujuh jenis kacang.

Tujuh kacang yang digunakan dalam Bubur Suro terdiri dari kacang tanah, kacang mede, kacang kedelai, kacang hijau, kacang tholo, kacang bogor, dan kacang merah. Angka tujuh melambangkan 7 (tujuh) hari dalam seminggu dimana setiap harinya kita harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rezeki dan berkat yang diberikan.

Lampah Ratri

Pura Pakualaman Jogja juga memiliki tradisi malam Satu Suro yakni Lampah Ratri yang merupakan kegiatan mengitari Beteng Kadipaten Pakualaman. Total rute yang dilalui untuk Lampah Ratri adalah 6 kilometer dengan titik awal di Kadipaten Puro Pakualaman, keluar menuju Jalan Gajah Mada, Jalan Sultan Agung, Jalan Harjono, Jalan Purwanggan, dan Jalan Harjowinatan. 

Baca Juga :   Trinity Sport Tourism 2024: Perkuat Citra Yogyakarta sebagai Destinasi Unggulan

Tata cara melakukan Lampah Ratri juga hampir sama dengan Mubeng Beteng yang dilakukan Keraton Yogyakarta. Semua masyarakat yang ikut prosesi ini dilarang untuk bersuara dan berbicara saat Lampah Ratri berlangsung.

Tradisi Malam Satu Suro di Solo (Surakarta)

Source: Website Resmi Pura Mangkunegaran

Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran juga memiliki tradisi malam Satu Suro yang berbeda. Perayaan Satu Suro di Solo, khususnya di Kasunanan selalu disambut oleh antusias besar masyarakat lokal karena terdapat Kirab Malam Satu Suro yang membawa ‘kebo bule’ sebagai ikon utamanya. Ini dia detail apa saja tradisi malam Satu Suro di Solo:

Jamasan Pusaka

Jamasan Pusaka dilakukan oleh Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran pada bulan Suro. Sebagian besar benda pusaka yang ada di dalam kerajaan akan disucikan dengan ritual khusus. Tujuan dari Jamasan Pusaka ini adalah menghormati serta merawat pusaka yang telah ada sejak jaman dulu.

Kirab Pusaka Dalem

Kirab Pusaka Dalem dilakukan di Pura Mangkunegaran dimulai dari area Pendapa Agung kemudian memutari tembok Pura Mangkunegaran. Namun di tahun 2024 terjadi perubahan rute dengan diperpanjang sampai melintasi Ngarsopuro hingga Jalan Slamet Riyadi. 

Sama dengan tradisi Mubeng Beteng yang ada di Yogyakarta, Kirab Pusaka Dalem di Surakarta juga memiliki beberapa peraturan yang harus ditaati seperti dilarang untuk keluar dari rombongan kirab, dilarang mengeluarkan/berbicara sepanjang kirab, serta tidak menggunakan alas kaki apapun ketika berjalan. 

Itulah berbagai tradisi Satu Suro yang ada di Yogyakarta dan Solo. Seluruh agenda menjelang Satu Suro dapat disaksikan oleh publik. Informasi terbaru tentang upacara adat di Yogyakarta dapat diakses melalui Instagram @kratonjogja.event dan @purapakualaman, sementara untuk Solo bisa diakses lewat Instagram @mangkunegaran dan @kraton_solo.

Nantikan beragam update mengenai wisata, budaya, akomodasi, hingga event yang ada di Jogja dengan mengikuti Instagram @ambarrukmo, Youtube Ambarrukmo serta website resmi Ambarrukmo.

Share the Post:

OTHER STORIES

The Gateway of Java menjadi gerbang untuk memperkenalkan semua sisi Yogyakarta dari dalam maupun luarnya. Ada berbagai

22 Juli 2024 menjadi sebuah momen spesial untuk GRAMM by Ambarrukmo, karena pada hari tersebut GRAMM Hotel

Tradisi malam Satu Suro menjadi sebuah adat sakral yang masih dipercaya masyarakat Jawa, terutama Yogyakarta dan Surakarta.

ARTJOG 2024 menjadi sebuah pameran seni yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Tahun 2024, ARTJOG mengambil tema Motif: