Candi Sewu adalah kompleks candi Buddha terbesar kedua di Indonesia yang berada di kawasan Prambanan, Yogyakarta. Candi tersebut memiliki nadi yang sama dengan Candi Borobudur di Magelang yang juga termasuk ke dalam Candi Buddha.
Daftar Isi
Tersusun dari ratusan bangunan candi dengan tata letak yang simetris, situs ini tidak hanya menarik dari sisi arsitektur, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah dan legenda yang berkembang di masyarakat. Meski dikenal sebagai “seribu candi”, jumlah aslinya justru berbeda, yang justru menambah daya tarik sekaligus misteri yang menyelimutinya.
Di bawah ini akan dijelaskan secara lebih lengkap mengenai sejarah, struktur, hingga keunikan Candi Sewu yang membuatnya berbeda dari kompleks candi lainnya.
Apa Itu Candi Sewu?

Candi Sewu adalah salah satu kompleks Candi Buddha terbesar di Indonesia, yang terdiri dari ratusan struktur candi dalam satu kawasan terpadu. Kompleks ini berada tidak jauh dari Candi Prambanan, yang membuat candi ini unik karena berdiri di tengah kawasan yang didominasi oleh candi bercorak Hindu.
Secara arsitektur, Candi Sewu memiliki tata letak yang terstruktur dengan satu candi utama di bagian tengah yang dikelilingi oleh ratusan candi perwara (pendamping). Meski namanya berarti “seribu”, jumlah candi yang ada sebenarnya sekitar 249 bangunan, yang tersusun membentuk pola mandala khas ajaran Buddha.
Keberadaan Candi Sewu tidak hanya mencerminkan kemajuan arsitektur pada masanya, tetapi juga menunjukkan kuatnya pengaruh agama Buddha di Jawa Tengah pada periode tertentu. Kompleks ini menjadi salah satu bukti bagaimana berbagai tradisi dan kepercayaan dapat berkembang berdampingan dalam satu kawasan budaya.
Kenapa Dinamakan Candi Sewu?

Candi Sewu dinamakan “sewu” karena dalam bahasa Jawa berarti seribu, merujuk pada persepsi masyarakat tentang banyaknya jumlah candi yang tersebar di kawasan ini. Meski demikian, jumlah aslinya tidak mencapai seribu, melainkan sekitar 249 candi, sehingga penamaan tersebut lebih bersifat simbolis daripada faktual.
Istilah ini juga berkaitan dengan legenda yang berkembang di masyarakat, khususnya kisah Roro Jonggrang yang menyebutkan bahwa candi-candi tersebut dibangun dalam semalam. Dalam cerita tersebut, tokoh Bandung Bondowoso digambarkan mampu membangun ratusan candi dalam waktu singkat, sehingga masyarakat kemudian menyebut kompleks ini sebagai “Candi Sewu”.
Secara historis, kompleks ini sebenarnya memiliki nama asli Manjusrigrha, yang berarti “Rumah Bagi Manjusri”, yaitu Bodhisattva yang melambangkan kebijaksanaan dalam ajaran Buddha. Nama ini mencerminkan fungsi religiusnya sebagai pusat kegiatan spiritual yang kemudian berkembang melalui penamaan lokal yang lebih dikenal hingga saat ini.
Sejarah dan Keunikan Candi Sewu

Candi Sewu tidak hanya menarik dari sisi arsitektur, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah yang mencerminkan dinamika keagamaan dan politik di Jawa kuno. Keberadaannya di tengah kompleks candi Hindu justru menjadi salah satu aspek paling unik yang membedakannya dari situs lain.
Berikut penjelasan mengenai latar sejarah dan keunikan Candi Sewu yang membuatnya istimewa.
Buddha di Jantung Kompleks Hindu: Paradoks Bersejarah
Salah satu hal paling menarik dari Candi Sewu adalah lokasinya yang sangat dekat dengan Candi Prambanan, kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Keberadaan candi Buddha di kawasan yang didominasi arsitektur Hindu sering kali dianggap sebagai paradoks, namun justru mencerminkan kondisi sejarah yang lebih kompleks.
Pada abad ke-8 hingga ke-9 M, wilayah Jawa Tengah berada di bawah pengaruh dua kekuatan besar, yaitu Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang beragama Buddha. Alih-alih saling bertentangan, kedua dinasti ini hidup berdampingan dalam periode tertentu, bahkan memungkinkan terjadinya hubungan politik dan pernikahan lintas dinasti.
Kondisi ini membuka ruang bagi pembangunan candi-candi dari dua tradisi berbeda di kawasan yang berdekatan. Candi Sewu menjadi salah satu bukti nyata bahwa toleransi dan koeksistensi telah berlangsung sejak masa tersebut, tercermin dari keberadaan candi Buddha di tengah lanskap Hindu.
Siapa yang Membangun Candi Sewu?
Candi Sewu dibangun oleh Rakai Panangkaran dari Dinasti Syailendra sekitar tahun 778 M. Pembangunan ini berlangsung pada masa berkembangnya ajaran Buddha Mahayana di Jawa Tengah, ketika candi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol kekuasaan dan ekspresi religius pada masa itu.
Seiring waktu, kompleks ini tidak hanya dibangun, tetapi juga terus dikembangkan. Salah satu tokoh penting dalam fase ini adalah Rakai Pikatan, raja Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. Menariknya, ia diketahui turut memperluas kompleks candi Buddha ini, yang diduga berkaitan dengan pernikahannya dengan putri Wangsa Syailendra.
Fenomena ini menunjukkan adanya hubungan lintas dinasti yang tidak hanya bersifat politis, tetapi juga kultural dan spiritual. Contoh lain dari dinamika ini dapat ditemukan pada kompleks candi seperti Candi Plaosan, yang juga mencerminkan perpaduan pengaruh Hindu dan Buddha.
Prasasti Kelurak dan Bukti Historis
Keberadaan Candi Sewu tidak hanya didukung oleh interpretasi arkeologis, tetapi juga oleh bukti tertulis berupa Prasasti Kelurak yang berasal dari tahun 782 M. Prasasti ini ditemukan di sekitar kawasan Candi Sewu dan menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah pembangunannya.
Dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa sebuah bangunan suci didirikan untuk memuliakan Manjusri, Bodhisattva yang melambangkan kebijaksanaan dalam ajaran Buddha. Hal ini memperkuat identifikasi bahwa Candi Sewu, yang secara historis dikenal sebagai Manjusrigrha, berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan Buddha pada masa itu.
Keberadaan Prasasti Kelurak memberikan landasan historis yang lebih kuat, menghubungkan kompleks candi ini dengan konteks keagamaan, politik, dan budaya yang berkembang di Jawa pada abad ke-8 hingga ke-9.
Arsitektur dan Layout Candi Sewu

Candi Sewu memiliki rancangan arsitektur yang terencana dengan pola ruang yang simetris dan berlapis. Kompleks ini tidak dibangun secara acak, melainkan mengikuti konsep kosmologi Buddha yang diwujudkan melalui susunan candi dari pusat hingga ke bagian terluar.
Berikut penjelasan mengenai struktur dan kondisi arsitektur Candi Sewu saat ini.
Denah Konsentris: Candi Induk Berada Pusat
Candi Sewu memiliki pola denah konsentris, di mana satu candi utama berada di pusat dan dikelilingi oleh ratusan candi pendamping dalam susunan berlapis. Tata letak ini mencerminkan konsep mandala dalam ajaran Buddha, yang menggambarkan pusat spiritual sebagai titik tertinggi yang dikelilingi oleh dunia di sekitarnya.
Di bawah ini penjelasan mengenai denah tersebut:
Candi Induk
Candi utama memiliki tinggi sekitar ±30 meter dengan struktur yang lebih sederhana dibandingkan Candi Prambanan. Ruang dalamnya terdiri dari bilik utama yang digunakan sebagai tempat pemujaan, dengan ornamen yang tetap mencerminkan detail khas arsitektur Buddha.
Candi Apit dan Perwara
Di sekeliling candi utama terdapat:
- 4 candi apit yang berada di empat penjuru utama
- 244 candi perwara yang tersusun dalam empat baris konsentris
Susunan ini menciptakan pola ruang yang terstruktur, sekaligus memperkuat kesan monumental dari keseluruhan kompleks.
Patung Dwarapala
Pada pintu masuk kawasan, terdapat dua patung raksasa penjaga yang dikenal sebagai Dwarapala. Patung ini memiliki ukuran besar dan ekspresi khas, membuatnya menjadi salah satu komponen paling ikonik di Candi Sewu. Keberadaan Dwarapala melambangkan fungsi perlindungan terhadap area suci di dalam kompleks.
Kondisi Rekonstruksi Saat Ini
Seiring berjalannya waktu, tidak semua bagian Candi Sewu tetap utuh. Proses pelestarian dan rekonstruksi terus dilakukan untuk mengembalikan bentuk aslinya, meskipun masih berlangsung secara bertahap. Candi utama telah mengalami proses pemugaran yang cukup signifikan, sehingga bentuknya saat ini sudah relatif utuh dan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang struktur aslinya.
Sebagian besar candi perwara masih berupa tumpukan batu yang disusun dengan sistem penomoran. Metode ini dikenal sebagai anastilosis, yaitu teknik membongkar dan menyusun kembali struktur berdasarkan posisi asli masing-masing batu.
Melalui sistem ini, setiap batu diberi nomor untuk memastikan rekonstruksi dilakukan dengan akurat. Proses ini membutuhkan waktu yang panjang, namun menjadi langkah penting untuk menjaga keaslian struktur candi.
Candi Sewu tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur dan kompleks yang luas, tetapi juga memberikan pengalaman yang berbeda melalui suasana yang lebih tenang dibandingkan dengan Candi Prambanan yang berada di sekitarnya. Perpaduan antara sejarah, tata ruang yang unik, hingga legenda yang menyertainya menjadikan situs ini layak untuk dijelajahi lebih dalam.
Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, menyempatkan diri singgah di Candi Sewu bisa menjadi cara untuk melihat sisi lain dari kekayaan budaya yang sering kali terlewat, sekaligus menikmati atmosfer yang lebih reflektif di tengah kawasan candi yang bersejarah.