Festival Lampion Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, adalah tradisi perayaan Hari Raya Waisak yang berlangsung di kawasan Candi Borobudur, ditandai dengan pelepasan ribuan lampion ke langit malam sebagai simbol harapan, doa, dan pencerahan.
Daftar Isi
Selain menjadi momen spiritual bagi umat Buddha, festival terbesar di Magelang ini juga dikenal sebagai salah satu perayaan budaya paling ikonik di Indonesia yang selalu menarik perhatian publik setiap tahunnya.
Lalu, apa makna di balik tradisi ini, kapan jadwal pelaksanaannya, dan bagaimana cara ikut serta dalam Festival Lampion Borobudur di Magelang, Jawa Tengah? Simak informasi selengkapnya pada penjelasan di bawah ini.
Apa Itu Festival Lampion Borobudur?

Festival Lampion Borobudur adalah salah satu rangkaian utama dalam perayaan Hari Raya Waisak yang diselenggarakan setiap tahun di pelataran Candi Borobudur. Tradisi ini berupa pelepasan ribuan lampion ke langit malam sebagai simbol doa, harapan, serta pelepasan hal-hal negatif dalam diri.
Festival ini juga dikenal sebagai satu-satunya festival lampion spiritual terbesar di Indonesia yang rutin digelar sejak 1966 setiap perayaan Waisak. Biasanya, acara berlangsung setelah prosesi inti seperti puja bakti dan meditasi, sehingga suasananya terasa lebih khidmat dan reflektif.
Selain memiliki makna spiritual bagi umat Buddha, momen ini juga menjadi daya tarik budaya yang unik dan dinantikan oleh banyak orang setiap tahunnya.
Makna dan Filosofi Lampion Waisak Borobudur

Pelepasan lampion dalam perayaan Hari Raya Waisak di kawasan Candi Borobudur bukan sekadar momen visual yang indah, tetapi juga sarat dengan makna simbolis. Setiap lampion yang diterbangkan merepresentasikan nilai-nilai spiritual yang telah menjadi bagian dari tradisi ini selama puluhan tahun.
Makna dan Filosofi Mendalam
Lampion yang diterbangkan ke langit malam memiliki filosofi yang erat kaitannya dengan ajaran Buddhisme dan refleksi diri. Beberapa makna utama yang terkandung di dalamnya antara lain:
- Pencerahan (Enlightenment): Cahaya lampion melambangkan perjalanan menuju pencerahan batin, sejalan dengan ajaran Buddha tentang pencarian kebijaksanaan dan kesadaran diri. Di mana juga merepresentasikan proses manusia dalam meninggalkan kegelapan menuju terang.
- Pelepasan Energi Negatif: Simbol melepaskan hal-hal yang membebani diri, baik dalam bentuk emosi, pikiran, maupun pengalaman yang tidak lagi relevan. Suasana yang hening menggambarkan ritual simbolik untuk “melepaskan” untuk ruang bagi ketenangan dan keseimbangan batin.
- Cinta Kasih (Metta): Representasi cinta kasih tanpa batas untuk semua makhluk. Cahaya lampion memiliki makna kolektif tentang harapan akan dunia yang lebih damai, penuh empati, dan saling terhubung. Hal tersebut juga masuk ke dalam ajaran Buddhisme yang menekankan welas asih sebagai fondasi kehidupan.
- Doa dan Harapan: Sebagai medium untuk menyampaikan doa dan harapan pribadi. Biasanya lampion akan diisi dengan keinginan tertentu yang harapannya dapat “terkirim” ke langit agar bisa terkabul suatu saat nanti.
Jumlah Lampion dan Hubungannya dengan Tahun Buddhis
Menariknya, jumlah lampion yang dilepaskan dalam festival ini tidak ditentukan secara acak, melainkan disesuaikan dengan tahun Buddhis (Buddhist Era/BE) yang sedang berlangsung. Misalnya, pada tahun 2568 BE, jumlah lampion yang diterbangkan dapat mencapai sekitar 2.568 lampion dalam satu sesi, menjadi simbol penanda waktu sekaligus memperkuat nilai spiritual dalam perayaan tersebut.
Dalam praktiknya, lampion tidak dibawa sendiri oleh peserta, melainkan telah disediakan oleh panitia resmi sebagai bagian dari paket tiket. Pengaturan ini bertujuan untuk menjaga standar keamanan, memastikan keseragaman visual, serta mendukung kelancaran prosesi secara keseluruhan.
Dengan sistem yang terorganisir, pelepasan lampion dapat berlangsung lebih tertib dan aman, tanpa mengurangi nilai sakral yang menjadi esensi utama dari tradisi ini.
Rangkaian Lengkap Festival Waisak Borobudur

Perayaan Waisak di kawasan Candi Borobudur berlangsung melalui rangkaian prosesi yang terstruktur, menggabungkan ritual keagamaan dengan momen reflektif yang terbuka bagi publik. Setiap tahap memiliki makna tersendiri, mulai dari perjalanan spiritual hingga puncak pelepasan lampion di malam hari.
Berikut rangkaian lengkap Festival Waisak Borobudur yang perlu Anda ketahui.
1. Prosesi dari Candi Mendut ke Borobudur
Rangkaian Waisak dimulai dengan prosesi kirab yang dilakukan oleh para biksu dan umat Buddha, berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Borobudur. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan lokasi, tetapi melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan.
Rute prosesi meliputi:
- Candi Mendut sebagai titik awal ritual
- Candi Pawon sebagai titik perantara
- Candi Borobudur sebagai titik akhir dan pusat perayaan
Total jarak yang ditempuh sekitar ±3 kilometer, dengan suasana yang khidmat dan diiringi doa sepanjang perjalanan. Masyarakat umum dapat menyaksikan prosesi ini dari sisi jalan dengan tetap menjaga ketertiban.
2. Puja Bakti di Pelataran Borobudur
Setibanya di Borobudur, rangkaian dilanjutkan dengan puja bakti yang berlangsung di pelataran candi. Ritual ini biasanya dimulai pada sore hingga menjelang malam, dipimpin oleh para biksu dari berbagai majelis Buddhis di Indonesia.
Puja bakti menjadi momen inti dalam perayaan Waisak, di mana umat Buddha melakukan doa bersama, meditasi, serta refleksi atas ajaran Buddha. Suasana yang tercipta cenderung tenang dan khidmat, dengan pencahayaan yang mulai redup menjelang malam.
Bagi pengunjung non-Buddha, prosesi ini tetap dapat disaksikan sebagai bagian dari pengalaman budaya, selama menjaga sikap dan menghormati jalannya ritual. Dalam hal busana, pengunjung disarankan mengenakan pakaian yang sopan, dengan warna putih atau pastel yang mencerminkan kesederhanaan dan ketenangan.
3. Sesi Penerbangan Lampion Sebagai Puncak Festival
Puncak perayaan Waisak ditandai dengan sesi penerbangan lampion yang berlangsung pada malam hari. Momen ini menjadi daya tarik utama karena terdapat visual ribuan lampion yang terbang bersamaan di langit malam Borobudur.
Biasanya terdapat lebih dari satu sesi dalam satu malam untuk mengakomodasi jumlah peserta yang besar. Setiap sesi memiliki durasi tertentu, dengan area duduk yang telah diatur berdasarkan kategori tiket yang dimiliki.
Pada saat pelepasan, lampion diterbangkan secara serentak mengikuti aba-aba panitia. Dalam hitungan detik, lebih dari 2.000 lampion akan naik bersamaan, menghadirkan pemandangan yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga suasana yang hening, reflektif, dan penuh makna. Momen ini menjadi penutup rangkaian Waisak sekaligus pengalaman yang paling berkesan bagi banyak pengunjung yang hadir.
Festival Lampion Waisak Borobudur 2026

Festival lampion Waisak Borobudur mengikuti kalender Buddhis, sehingga tanggal pelaksanaannya ditentukan berdasarkan momen purnama Waisak setiap tahunnya. Selain jadwal, informasi terkait harga dan mekanisme pembelian tiket juga menjadi hal penting untuk diperhatikan karena jumlahnya terbatas dan sering kali habis dalam waktu singkat.
Berikut jadwal pelaksanaan serta informasi tiket yang perlu Anda ketahui.
Tanggal Festival Lampion Waisak Borobudur 2026
Untuk tahun 2026, Festival Lampion Borobudur dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei 2026, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Waisak. Tanggal ini mengikuti siklus bulan purnama dalam kalender Buddhis, yang menjadi penanda utama pelaksanaan rangkaian ritual Waisak.
Pelepasan lampion umumnya dilakukan pada malam hari setelah rangkaian puja bakti selesai, dengan pembagian beberapa sesi (biasanya 2 sesi) untuk mengakomodasi jumlah peserta yang besar. Setiap sesi memiliki durasi tertentu dan diatur secara tertib oleh panitia.
Harga Tiket Festival Lampion Waisak Borobudur 2026
Untuk mengikuti sesi pelepasan lampion, pengunjung diwajibkan membeli tiket resmi yang disediakan oleh panitia. Harga tiket biasanya terbagi dalam beberapa kategori, tergantung pada posisi duduk dan fasilitas yang didapatkan.
Secara umum, harga tiket untuk Festival Lampion Borobudur 2026:
- Mulai dari sekitar Rp550.000 untuk kategori dasar
- Kategori premium/VIP dapat mencapai Rp1.000.000+ tergantung fasilitas
Setiap tiket umumnya sudah termasuk:
- 1 lampion per peserta
- Area duduk sesuai kategori
- Akses ke sesi pelepasan lampion tertentu
Pembelian tiket dilakukan secara online melalui platform resmi yang ditunjuk oleh panitia. Mengingat tingginya minat setiap tahun, tiket sering kali terjual habis dalam waktu singkat, sehingga disarankan untuk melakukan pembelian segera setelah penjualan dibuka.
Lokasi Festival Lampion Waisak Borobudur 2026
Festival lampion Waisak berlangsung di pelataran utama Candi Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ini menjadi pusat perayaan Waisak nasional di Indonesia sekaligus titik utama pelepasan lampion.
Meskipun sering dikaitkan dengan Yogyakarta karena jaraknya yang relatif dekat, secara administratif Borobudur berada di wilayah Magelang. Akses menuju lokasi cukup mudah, baik dari Yogyakarta maupun kota-kota lain di sekitarnya.
Area pelataran telah diatur sedemikian rupa untuk menampung peserta sesuai kategori tiket, sehingga pengalaman menyaksikan pelepasan lampion dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan tetap menjaga suasana sakral dari perayaan tersebut.
Dengan rangkaian prosesi yang terstruktur, makna spiritual yang mendalam, serta puncak pelepasan lampion yang ikonik, Festival Waisak di kawasan Candi Borobudur menawarkan pengalaman yang tidak hanya visual, tetapi juga reflektif.
Jika Anda mencari momen yang berbeda saat berkunjung ke Borobudur, mengikuti festival ini bisa menjadi pilihan yang berkesan, baik untuk menyaksikan tradisi secara langsung maupun merasakan suasana yang penuh ketenangan dan makna.