Sejak pertama kali bertahta pada 7 Maret 1989, Sri Sultan Hamengku Bawono X tak hanya menjabat sebagai Raja di Karaton Kasultanan Yogyakarta, tetapi juga mengemban mandat besar untuk memimpin sebagai gubernur. 37 tahun di bawah kepemimpinannya, Yogyakarta bertransformasi sebagai kota pariwisata yang maju dan semakin dikenal di kancah nasional dan internasional. Berbagai pencapaian prestisius pun telah sukses ditorehkan untuk membuat nadi budaya, wisata, ekonomi, dan seni di Yogyakarta tetap berdenyut.
Dari rasa cinta dan hormat masyarakat Yogyakarta yang besar terhadap sosok Sri Sultan Hamengku Bawono X, terciptalah sebuah gagasan mengenai Kirab Mangayubagya yang diinisiasi oleh Lembaga Kemasyarakatan (LKK) se-DIY di berbagai penjuru daerah.
Kirab Mangayubagya tak sekadar perayaan budaya semata, namun menjadi ungkapan rasa syukur atas segala kebijakan Sri Sultan Hamengku Bawono X yang telah mengayomi selama masa kepemimpinannya. Kirab ini digelar bertepatan dengan ulang tahun Sri Sultan Hamengku Bawono X yang ke-80 yang jatuh pada 2 April 2026.
Guyub Rukun Masyarakat Yogyakarta dalam Kirab Mangayubagya

Kirab Mangayubagya akan diikuti oleh 10.000-12.000 orang yang terbagi dalam 438 kalurahan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kirab akan berlangsung mulai dari Titik Nol Kilometer, kemudian berjalan ke selatan menuju Pagelaran Alun-alun Utara, Keraton Yogyakarta.
Dilansir dari berbagai sumber, Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY Nayantaka— Gandang Hardjanta mengatakan bahwa seluruh kalurahan akan membawa hasil bumi yang khas dari setiap wilayahnya untuk dipersembahkan pada Sri Sultan Hamengku Bawono X.
Gandang menambahkan juga, “Semua hasil bumi diberikan berdasarkan keikhlasan dan kemampuan masing-masing kalurahan. Apa yang dimiliki, itulah yang dibawa. Yang dari pesisir mungkin membawa kelapa, yang lain membawa hasil bumi berbeda. Ini bagian dari rasa terima kasih kami. Sebagian kecil hasil dari pengelolaan tersebut kami kembalikan sebagai bentuk penghormatan.”

Seluruh hasil bumi yang dibawa pada saat kirab nanti akan diserahkan kembali kepada bupati dan wali kota untuk didistribusikan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan. Memeriahkan momentum tersebut, banyak restoran dan juga hotel di kawasan Karaton Yogyakarta yang juga memberikan dukungan berupa angkringan gratis kepada peserta kirab.
Dibandingkan prosesi kirab lainnya, Kirab Mangayubagya ini mempunyai skala yang sangat besar. Menurut Gandang Hardjananta, kirab ini belum pernah dilakukan sejak masa kemerdekaan Indonesia. Adanya prosesi kirab tersebut tak hanya bertujuan untuk melestarikan budaya semata, tetapi juga turut menjadi magnet pariwisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta menjelang libur akhir pekan yang panjang ini.