Sekaten merupakan salah satu tradisi paling sakral dan megah di Pulau Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Setiap tahun, upacara ini digelar oleh dua keraton besar Keraton Yogyakarta dan Keraton Kasunanan Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah.
Lebih dari sekadar ritual, Sekaten adalah perwujudan harmoni antara Islam dan budaya Jawa. Melalui denting gamelan pusaka dan semerbak bunga di halaman masjid, masyarakat diajak merenungi ajaran Nabi sambil menjaga warisan luhur yang telah hidup selama berabad-abad.
Daftar Isi
Asal-usul dan Makna Kata Sekaten
Istilah Sekaten memiliki banyak versi makna yang semuanya memperkaya filosofi tradisi ini:
Sekati
Pertama, ada yang menyebut kata ini berasal dari Sekati yaitu sepasang gamelan yang ditabuh selama perayaan Sekaten dan dipercaya memiliki makna spiritual mendalam: menyeru manusia agar mendekat kepada Tuhan melalui harmoni nada dan jiwa.
nama dua perangkat gamelan pusaka milik keraton, yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di Surakarta, serta Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga di Yogyakarta.
Syahadatain
Versi kedua menyebut Sekaten berasal dari kata Arab “Syahadatain”, yang berarti dua kalimat syahadat pengakuan iman dalam ajaran Islam. Versi ini menegaskan bahwa Sekaten bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga sarana dakwah untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jawa pada masa awal penyebarannya.
Suka dan Ati
Sementara versi ketiga menafsirkan kata tersebut dari istilah Jawa kuno “suka-ati” atau “sesek-ati”, yang menggambarkan perasaan gembira dan tulus hati dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dari ketiga versi ini, benang merahnya jelas: Sekaten mengandung makna spiritual tentang keimanan, kebahagiaan, dan kesadaran batin. Tradisi ini dipercaya pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, sebagai strategi dakwah kultural mengajak masyarakat Jawa mencintai ajaran Islam melalui musik gamelan, upacara, dan kebersamaan rakyat.
Sejarah dan Filosofi Sekaten

Secara historis, tradisi Sekaten berakar pada masa Kesultanan Demak pada abad ke-15, di bawah kepemimpinan Raden Patah dan bimbingan Wali Songo. Saat itu, Islam mulai menyebar luas di Jawa, dan Sekaten digunakan sebagai pendekatan lembut untuk mengajak masyarakat mendengarkan dakwah tanpa paksaan. Musik gamelan yang akrab dengan budaya lokal menjadi jembatan antara keyakinan lama dan ajaran baru.
Ketika kekuasaan berpindah ke Kerajaan Mataram Islam, tradisi ini terus dilestarikan dan bahkan dikembangkan oleh para sultan, termasuk Sultan Agung Hanyakrakusuma. Dari sinilah Sekaten akhirnya diwariskan ke dua pusat kebudayaan besar: Keraton Yogyakarta Hadiningrat dan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Filosofi utama Sekaten adalah pengingat nilai iman, rasa syukur, dan kebersamaan. Di satu sisi, upacara ini menegaskan pentingnya mengingat kelahiran Rasulullah sebagai sumber teladan moral. Di sisi lain, Sekaten juga menjadi sarana mempererat hubungan antara raja dan rakyat, antara agama dan budaya, antara dunia spiritual dan kehidupan sosial.
Prosesi dan Rangkaian Acara Sekaten
Tradisi Sekaten bukan hanya seremoni tahunan, melainkan perjalanan spiritual dan budaya yang berlangsung selama beberapa hari. Setiap tahapnya memiliki makna simbolik yang kuat mulai dari keluarnya gamelan pusaka hingga pembagian gunungan kepada rakyat.
Miyos Gangsa: Keluarnya Gamelan Pusaka

Prosesi Sekaten dimulai dengan prosesi Miyos Gangsa, yang berarti “keluarnya gamelan”. Pada malam yang ditentukan dalam kalender Jawa, dua perangkat gamelan pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga di Yogyakarta, serta Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di Surakarta dibawa keluar dari keraton dengan penuh khidmat.
Gamelan tersebut diarak menuju halaman Masjid Gedhe Kauman (di Jogja) atau Masjid Agung Surakarta (di Solo), diiringi prajurit keraton dan abdi dalem berpakaian adat lengkap. Denting gong dan tabuhan kendang pertama menandai dimulainya masa Sekaten sebuah panggilan halus kepada masyarakat untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta melalui irama gamelan dan dzikir.
Di sepanjang arak-arak, bunga dan uang logam disebar ke arah masyarakat sebagai simbol kemurahan hati raja kepada rakyat.
Numplak Wajik: Persiapan Gunungan

Beberapa hari sebelum puncak acara, halaman keraton menjadi ramai dengan aroma harum gula merah dan ketan. Para abdi dalem melaksanakan ritual Numplak Wajik, yakni membuat kue wajik yang kelak menjadi bagian puncak gunungan.
Selain menyiapkan wajik, para prajurit juga mulai berlatih baris-berbaris, dan masyarakat membantu menata hasil bumi cabai merah, kacang panjang, wortel, serta padi menjadi bentuk gunungan yang megah. Semua dilakukan dengan suasana guyub, diselingi tawa dan doa.
Tabuhan Gamelan

Selama sepekan setelah Miyos Gangsa, suara gamelan menggema dari pagi hingga malam di pelataran masjid. Nada-nada berat gamelan pusaka menciptakan atmosfer yang sakral, seolah mengundang siapapun untuk berhenti sejenak dan meresapi makna kehidupan.
Grebeg Maulud: Puncak Prosesi

Puncak perayaan tiba pada tanggal 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Inilah momen Grebeg Maulud ketika gunungan hasil bumi diarak keluar dari keraton dan dibawa menuju Masjid Gedhe atau Masjid Agung.
Usai doa bersama, masyarakat berbondong-bondong memperebutkan isi gunungan. Meski tampak riuh, suasana itu diliputi keyakinan: siapa pun yang mendapat sebagian dari gunungan dipercaya akan memperoleh berkah dan keselamatan.
Kondur Gangsa: Penutup Prosesi

Setelah puncak perayaan, gamelan pusaka dikembalikan ke keraton dalam prosesi Kondur Gangsa. Tabuhan terakhir dimainkan sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian Sekaten. Prosesi ini diawali dengan pembagian udhik udhik oleh sultan, dilanjutkan dengan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW. Tidak ada kesedihan di momen ini, justru rasa syukur yang mengalir karena tradisi yang berusia lebih dari lima abad ini masih hidup dan dirawat dengan penuh cinta.
Perbedaan Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta

Meski berakar dari tradisi yang sama, pelaksanaan Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta memiliki nuansa yang berbeda.
Sekaten di Yogyakarta
- Bernuansa spiritual dan sakral, menekankan nilai keagamaan.
- Prosesi dimulai dengan Miyos Gangsa (keluarnya gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu & Kyai Naga Wilaga).
- Gamelan ditabuh setelah salat Isya di halaman Masjid Gedhe Kauman.
- Dibarengi pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dan ritual Udik-Udik (penebaran beras, bunga, koin).
- Ditutup dengan prosesi Kundur Gangsa (pengembalian gamelan ke keraton).
- Puncak acara Grebeg Maulud menampilkan enam gunungan:
- 2 Gunungan Jaler (laki-laki)
- 1 Gunungan Wadon (perempuan)
- 1 Gunungan Dharat
- 1 Gunungan Gepak
- 1 Gunungan Pawuhan
Sekaten di Surakarta
- Lebih menonjolkan kemegahan visual dan nuansa rakyat.
- Menggunakan gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu & Kyai Guntur Sari.
- Gamelan ditabuh setelah prosesi Miyos Gangsa, tanpa menunggu salat Isya.
- Tanpa pembacaan riwayat Nabi, tanpa ritual Udik-Udik, dan tanpa prosesi Kundur Gangsa.
- Memiliki tradisi khas hiasan janur kuning di bangsal masjid, yang diperebutkan warga sebagai simbol keberkahan.
- Grebeg Maulud hanya menampilkan dua gunungan utama: Gunungan Jaler & Gunungan Estri.
Nilai moral yang terkandung di dalamnya masih relevan hingga kini, keikhlasan dalam berbuat, kebersamaan dalam hidup bermasyarakat, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur. Tak heran bila Sekaten tetap digelar dengan penuh khidmat setiap tahun, menjadi saksi betapa kuatnya jalinan spiritual dan budaya yang membentuk identitas Yogyakarta dan Surakarta hingga hari ini.