Dalam kehidupan masyarakat Jawa, masih lestari berbagai tradisi yang mengandung filosofi mendalam salah satunya Tedak Siten, atau dikenal sebagai Turun Tanah. Upacara adat ini dilakukan saat bayi untuk pertama kalinya menapakkan kaki di bumi.
Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas pertumbuhan anak yang sehat, sekaligus doa agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan berbudi luhur. Bagi masyarakat Jawa, Tedak Siten merupakan peristiwa budaya yang merefleksikan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Daftar Isi
Asal-Usul dan Pengertian Tedak Siten

Dalam bahasa Jawa, kata “tedhak” berarti turun, sedangkan “Siten” berasal dari kata “Siti” yang berarti tanah. Secara harfiah, Tedak Siten bermakna “turun ke tanah” momen simbolis ketika seorang bayi pertama kali menapakkan kaki di bumi, tempat manusia hidup, tumbuh, dan kembali.
Tradisi ini telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram, dan memiliki akar dari kepercayaan kuno Hindu–Buddha yang memuliakan tanah sebagai sumber kehidupan. Dalam pandangan masyarakat Jawa, tanah adalah lambang kesucian dan keseimbangan awal dan akhir perjalanan manusia.
Kini, Tedak Siten tidak hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan atau keluarga keraton, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat luas. Nilainya tetap sama, yakni sebagai doa, penyucian, dan bentuk rasa syukur atas karunia kehidupan yang baru dimulai.
Waktu Dilaksanakan Tedak Siten

Tedak Siten biasanya dilakukan ketika bayi berusia 7 lapan, yaitu sekitar 8 bulan kalender masehi, dalam hitungan kalender Jawa (1 lapan = 35 hari). Angka tujuh memiliki makna spiritual: melambangkan kesempurnaan ciptaan dan harapan agar anak mendapat keberkahan di setiap fase hidupnya.
Hari pelaksanaan Tedak Siten umumnya disesuaikan dengan Weton, yaitu kombinasi hari dan pasaran kelahiran bayi berdasarkan penanggalan Jawa karena dipercaya dapat membawa keseimbangan dan keberuntungan bagi si kecil. Upacara ini dihadiri keluarga besar, sesepuh, serta pemuka adat yang memimpin doa bersama, menciptakan suasana sakral penuh kebahagiaan.
Perlengkapan dan Simbolisme Tedak Siten
Dalam tradisi Tedak Siten, setiap perlengkapan yang digunakan bukan sekadar hiasan upacara, melainkan mengandung makna spiritual dan moral yang dalam. Seluruh unsur disiapkan dengan cermat sebagai lambang doa dan harapan orang tua bagi buah hatinya.
Jadah Tujuh Warna

Jadah Tujuh warna ini melambangkan “Pitulungan” atau pertolongan dari Tuhan, agar hidup anak selalu mendapat bimbingan Ilahi.
Setiap warna mewakili beberapa filosofi mendalam. Warna merah diartikan sebagai keberanian, warna putih diartikan dengan kesucian, lalu biru dengan ketenangan jiwa, merah muda/jingga diartikan sebagai kasih sayang, warna hijau disimbolkan sebagai kesuburan, warna kuning sebagai kekuatan, dan ungu mewakili kesempurnaan/kebijaksanaan.
Warna-warna yang tersusun dari gelap ke terang mengisyaratkan perjalanan manusia: dari masa sulit menuju kehidupan yang penuh cahaya dan kebijaksanaan.
Tangga Tebu Wulung

Selanjutnya ada tangga tebu wulung, yang bermakna keteguhan hati dan kekuatan tekad. Dalam filosofi Jawa, tebu berasal dari kata “Antebing Kalbu”, artinya keteguhan dalam menghadapi setiap tantangan hidup. Anak diharapkan kelak tumbuh berani, tidak mudah goyah oleh keadaan.
Kurungan Ayam

Kurungan ayam menjadi simbol dunia nyata yang akan dihadapi anak. Di dalam kurungan biasanya diletakkan berbagai benda seperti alat tulis, cermin, uang, atau mainan apa pun yang dipilih bayi dipercaya sebagai pertanda jalan hidup atau profesi di masa depan.
Air Bunga

Tak kalah penting, air bunga disiapkan untuk prosesi siraman. Air ini melambangkan kesucian hati dan doa agar anak tumbuh harum nama, membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungan.
Udhik-Udhik

Sementara itu, udhik-udhik campuran uang logam dan beras kuning yang ditebar menjadi simbol kerelaan berbagi rezeki. Melalui ritual ini, keluarga diajarkan untuk bersyukur dan tidak lupa berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Tumpeng

Sebagai penutup perlengkapan, hadir tumpeng nasi kuning lengkap dengan lauk tradisional sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas pertumbuhan anak dan kesejahteraan keluarga.
7 Urutan Prosesi Tedak Siten

Upacara Tedak Siten biasanya berlangsung dalam tujuh tahap, menggambarkan proses kehidupan manusia dari awal hingga mencapai kematangan spiritual dan sosial.
- Mencuci Kaki Anak
Pertama, membersihkan kaki anak sebelum menapak tanah. Air digunakan sebagai simbol penyucian, menandakan niat yang bersih sebelum melangkah ke dunia. - Menapaki Jadah Tujuh Warna
Proses kedua, anak berjalan di atas tujuh jadah warna, melambangkan perjalanan hidup yang diiringi doa serta pertolongan dari Tuhan. - Naik Tangga Tebu Wulung
Tahap ketiga, naik tangga tebu wulung. Prosesi ini mengajarkan anak untuk tangguh, berani, dan percaya diri dalam meniti kehidupan yang penuh tantangan. - Masuk Kurungan Ayam
Keempat, anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam, di mana berbagai benda disiapkan di dalamnya. Apapun yang diambil bayi dipercaya mencerminkan arah hidup atau bakat alami yang akan tumbuh di masa depan. - Siraman
Kelima, mandi bunga atau siraman, yang dilakukan agar anak “harum” dalam arti moral dan spiritual, membawa nama baik bagi keluarga dan lingkungan. - Nyebar Udhik-Udhik
Keenam, menyebar udhik-udhik simbol ajaran berbagi. Anak dikenalkan pada nilai dermawan dan peduli terhadap sesama sejak dini. - Pemotongan Tumpeng dan Kenduri Bersama
Terakhir, pemotongan tumpeng dan kenduri bersama keluarga serta tetangga. Ini menjadi puncak rasa syukur, di mana seluruh prosesi diakhiri dengan doa bersama dan jamuan sederhana.
Pada prosesi ini orang tua bayi biasanya mengenakan pakaian adat Jawa sang ibu memakai kebaya dengan jarik batik, sedangkan ayah mengenakan beskap atau lurik. Anak kemudian dibalut pakaian adat sederhana yang tetap nyaman untuknya.
Makna Filosofis Tedak Siten
Melalui Tedak Siten, masyarakat diajarkan untuk menghormati kehidupan, memelihara keseimbangan, dan menghargai warisan leluhur. Tradisi ini merupakan identitas budaya yang terus hidup di tengah modernitas mengingatkan setiap generasi agar tidak lupa pada akar dan makna keberadaannya di bumi.
Tedak Siten adalah refleksi ajaran luhur masyarakat Jawa: bahwa setiap langkah kehidupan dimulai dengan niat suci, disertai doa dan restu keluarga. Tradisi ini mengajarkan tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.