Joglo Sinom adalah salah satu variasi bangunan Joglo dalam arsitektur tradisional Jawa yang dikenali melalui susunan atap dan struktur ruangnya. Tiga susunan atap utamanya, yaitu brunjung, penanggap, dan penitih, membentuk karakter proporsi yang khas.
Dalam konteks heritage Yogyakarta, Joglo Sinom memiliki keterkaitan dengan Pendopo Agung Ambarrukmo yang pada awalnya menggunakan tipe dasar Joglo Sinom sebelum diperluas menjadi Joglo Ageng. Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana struktur Joglo Sinom dapat diterapkan pada bangunan dengan skala yang lebih besar
Daftar Isi
Apa Itu Joglo Sinom?

Joglo Sinom merupakan salah satu variasi bangunan Joglo dalam arsitektur tradisional Jawa yang berada di antara bentuk Joglo yang lebih sederhana dan bentuk Joglo berukuran lebih besar. Dalam klasifikasi Dinas Kebudayaan DIY, perbedaan antar jenis Joglo dapat dilihat dari susunan atap dan perkembangan struktur bangunannya. Joglo Sinom memiliki karakter yang lebih kompleks dibandingkan bentuk Joglo dasar, tetapi belum mencapai skala dan kelengkapan struktur seperti Joglo Hageng.
Salah satu ciri yang membedakan Joglo Sinom adalah tiga susunan atap utama, yaitu brunjung, penanggap, dan penitih. Brunjung merupakan atap tertinggi yang berada di bagian tengah, kemudian penanggap mengelilinginya pada tingkat yang lebih rendah, sedangkan penitih menjadi lapisan berikutnya yang memperluas naungan bangunan.
Susunan bertingkat ini menghasilkan ruang yang lebih luas dibandingkan Joglo yang lebih sederhana, tetapi masih memiliki proporsi yang berbeda dari bentuk Joglo yang dikembangkan dengan tambahan atap dan ruang lebih banyak.
Apa Ciri-Ciri Joglo Sinom?

Joglo Sinom dapat dikenali terutama dari susunan atap dan struktur pusat bangunannya. Jika dilihat dari bagian atas hingga ke ruang dalam, terdapat tiga elemen penting yang membantu membedakan bentuk ini dari variasi Joglo lainnya, yaitu susunan atap bertingkat, saka guru, dan ruang tengah yang relatif terbuka.
Tiga Tingkat Susunan Atap
Ciri yang paling spesifik pada Joglo Sinom adalah tiga susunan atap, yaitu brunjung, penanggap, dan penitih. Brunjung merupakan bagian atap tertinggi yang berada di atas ruang inti bangunan. Di bawahnya terdapat penanggap, yaitu lapisan atap yang mengelilingi bagian tengah dan membuat bangunan memiliki naungan yang lebih lebar.
Lapisan berikutnya adalah penitih, yang kembali memperluas struktur atap ke arah luar. Jika dibayangkan secara vertikal, susunannya bergerak dari brunjung, penanggap, penitih, dengan setiap tingkat semakin melebar ke bawah.
Saka Guru
Saka guru adalah empat tiang utama yang berada di bagian tengah bangunan Joglo. Empat tiang tengah tersebut menjadi bagian penting dari struktur utama bangunan. Keempat tiang ini menopang konstruksi di atas ruang inti, termasuk struktur kayu yang kemudian mendukung susunan atap. Karena berada di pusat bangunan, posisi saka guru juga menjadi titik penting dalam hubungan antara struktur vertikal berupa tiang dan struktur atap yang melebar ke arah luar.
Bentuk Ruang yang Terbuka
Struktur Joglo memungkinkan terbentuknya ruang tengah yang luas dan relatif terbuka, karena titik tumpu utama berada pada saka guru dan struktur pendukung ditempatkan di bagian lainnya.
Ruang seperti ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari menerima tamu hingga aktivitas bersama, tergantung fungsi bangunan dan konteks penggunaannya. Karena itu, karakter ruang terbuka sebaiknya dipahami sebagai salah satu kualitas arsitektur Joglo, bukan berarti setiap bangunan Joglo Sinom selalu berfungsi sebagai pendopo.
Apa Perbedaan Joglo Sinom dan Joglo Hageng?

Perbedaan Joglo Sinom dan Joglo Hageng paling mudah dilihat dari susunan atap dan skala bangunannya. Keduanya sama-sama mempertahankan prinsip dasar arsitektur Joglo, tetapi Joglo Hageng memiliki susunan yang lebih lengkap dan ukuran yang lebih besar.
Jumlah Tingkat Atap
Joglo Sinom memiliki tiga susunan atap utama, yaitu brunjung, penanggap, dan penitih. Sementara itu, Joglo Hageng memiliki lima tingkatan, yaitu brunjung, penanggap, penitih, peningrat, dan emper. Penambahan dua lapisan pada Joglo Hageng membuat struktur atapnya berkembang lebih jauh ke arah luar dan memungkinkan terbentuknya bangunan dengan naungan serta ruang yang lebih luas.
Skala Bangunan
Perbedaan berikutnya terletak pada skala dan bentang bangunan. Joglo Hageng merupakan bentuk Joglo yang paling besar atau luas. Joglo Sinom memiliki ukuran yang lebih sederhana dibandingkan Hageng, sedangkan tambahan struktur dan tingkatan atap pada Hageng memungkinkan bangunan memiliki bentang ruang yang lebih besar. Dengan demikian, perbedaan keduanya tidak hanya terlihat dari jumlah lapisan atap, tetapi juga dari proporsi keseluruhan bangunan.
Joglo Sinom dalam Arsitektur Pendopo Agung Ambarrukmo

Pendopo Agung merupakan salah satu bangunan utama dalam kompleks Pesanggrahan Ambarrukmo dan menjadi contoh penting untuk melihat bagaimana bentuk Joglo berkembang dalam konteks heritage Yogyakarta.
Menurut Ambarrukmo, bangunan ini pada awalnya memiliki tipe dasar Joglo Sinom, kemudian mengalami perluasan hingga menjadi Joglo Ageng. Pendopo Agung memiliki ukuran sekitar 32 × 32,4 meter dan berorientasi menghadap ke selatan. Perubahan tersebut membuat bangunan memiliki struktur yang lebih besar tanpa menghilangkan karakter dasar arsitektur Joglo.
Setelah mengalami perluasan, struktur tiang Pendopo Agung terdiri atas:
- 4 Saka Guru: empat tiang utama yang berada di pusat bangunan dan menjadi inti struktur Joglo.
- 12 Saka Penanggap: tiang yang berada pada bagian penanggap dan mendukung perluasan struktur di luar ruang inti.
- 20 Saka Penitih: tiang pada lapisan berikutnya yang menopang struktur tambahan menuju bagian luar bangunan.
- 20 Saka Peningrat: tiang pada bagian emper yang menjadi struktur terluar setelah bangunan diperluas.
Dengan susunan tersebut, Pendopo Agung memiliki total 56 tiang setelah mengalami perluasan. Struktur ini memperlihatkan bagaimana penambahan lapisan bangunan dapat memperluas ruang dan skala Joglo dari bentuk dasarnya sebagai Joglo Sinom menjadi bangunan yang lebih besar.
Secara historis, Pendopo Agung digunakan sebagai tempat menerima tamu kerajaan dan menyelenggarakan upacara adat. Fungsinya sebagai ruang pertemuan dan kegiatan budaya menjadikan pendopo bagian penting dari kehidupan di kompleks Pesanggrahan Ambarrukmo.
Hingga kini, bangunan tersebut masih menjadi bagian dari pengalaman heritage Ambarrukmo dan digunakan untuk berbagai aktivitas budaya. Di Royal Ambarrukmo, misalnya, Pendopo Agung menjadi lokasi pengalaman budaya seperti Jemparingan dan Patehan, sehingga fungsi ruangnya tetap berkaitan dengan pengenalan tradisi Jawa kepada pengunjung.
Frequently Asked Questions
Apa nama 4 tiang penyangga rumah Joglo?
Empat tiang utama pada bagian tengah rumah Joglo disebut saka guru. Keempat tiang ini menjadi struktur inti yang menopang bagian utama konstruksi atap dan berada di pusat bangunan.
Apa perbedaan Joglo Sinom dan Joglo Hageng?
Perbedaan utamanya terletak pada susunan atap dan skala bangunan. Joglo Sinom memiliki tiga susunan atap, yaitu brunjung, penanggap, dan penitih, sedangkan Joglo Hageng memiliki lima susunan, yaitu brunjung, penanggap, penitih, peningrat, dan emper. Joglo Hageng juga merupakan bentuk Joglo yang paling besar atau luas dalam klasifikasi tersebut.
Berapa tingkat atap Joglo Sinom?
Joglo Sinom memiliki tiga tingkat susunan atap, yaitu brunjung sebagai bagian tertinggi, penanggap di bawahnya, dan penitih sebagai lapisan berikutnya yang memperluas struktur ke arah luar.
Apakah Pendopo Ambarrukmo merupakan Joglo Sinom?
Pendopo Agung Ambarrukmo pada awalnya memiliki tipe dasar Joglo Sinom, kemudian mengalami perluasan hingga menjadi Joglo Ageng. Perubahan tersebut membuat bangunan memiliki struktur yang lebih besar dengan total 56 tiang, tetapi tetap memperlihatkan karakter dasar arsitektur Joglo.
Memahami Joglo Sinom membantu melihat bagaimana arsitektur tradisional Jawa berkembang melalui struktur, susunan atap, dan kebutuhan ruang. Perbandingannya dengan bentuk yang lebih besar seperti Joglo Hageng juga menunjukkan bahwa perubahan skala dan penambahan struktur dapat menghasilkan karakter bangunan yang berbeda.
Jejak perkembangan arsitektur tersebut dapat dilihat secara nyata di Yogyakarta, salah satunya melalui Pendopo Agung dalam kompleks Pesanggrahan Ambarrukmo. Bangunan ini juga membawa kita pada kisah Sultan Hamengku Buwono VII dan periode ketika Ambarrukmo berkembang sebagai bagian dari lingkungan kerajaan Yogyakarta.