Menelusuri Asal Usul Pesanggrahan Ambarrukmo dalam Sejarah

Pesanggrahan Ambarrukmo menjadi sebuah bagian penting dari warisan budaya Kasultanan Yogyakarta di masa lampau. Sejarahnya dimulai pada tahun 1755, ketika Kasultanan Yogyakarta didirikan sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua bagian.

Sampai saat ini Kasultanan Yogyakarta telah dipimpin oleh sepuluh Sultan yang masing-masing berkontribusi dalam pembangunan kota Yogyakarta. Selain membangun kompleks Kraton, para Sultan juga mendirikan berbagai tempat istimewa di luar Kraton, seperti pesanggrahan-pesanggrahan. Biasanya Pesanggrahan digunakan sebagai tempat beristirahat, tempat penyambutan tamu, maupun tempat perundingan. 

Baca Juga: Mengungkap Filosofi dan Kekayaan Makna dari Koleksi Wayang Museum Ambarrukmo

Menilik Tiap Sudut Pesanggrahan Ambarrukmo, Rekam Jejak Sejarah Kasultanan Yogyakarta

pesanggrahan ambarrukmo
Tampak Depan Pendopo Agung Ambarrukmo

Salah satu pesanggrahan milik Sultan yang paling terkenal adalah Pesanggrahan Ambarrukmo karena memiliki sejarah yang unik serta menjadi saksi bisu bagi berdirinya Republik Indonesia. Sebelum dikenal sebagai Ambarrukmo, wilayah ini awalnya dikenal dengan nama “Jenu“. Namun, pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II, wilayah ini lebih dikenal sebagai “Kebun Kerajaan”.

Kebun ini digunakan sebagai tempat istirahat, penyambutan tamu istana, serta tempat perundingan dengan pihak asing. Seperti contohnya, perundingan penting yang terjadi pada tahun 1809 antara Sultan Hamengku Buwono II dengan Gubernur Jenderal Willem Daendels. Tradisi penyambutan tamu kerajaan di Kebun Kerajaan ini berlanjut hingga masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VI. Setelah itu, tempat ini digunakan sebagai tempat tinggal anggota kerajaan. 

Setelah itu, pada tahun 1859 Gubernur Jenderal Hindia Belanda melakukan kunjungan ke Kraton Yogyakarta. Sebagai bentuk penyambutan tamu Sultan Hamengku Buwono VI memerintahkan pembangunan dan perluasan Pendopo kecil yang telah ada sebelumnya. Perluasan ini penting mengingat kunjungan gubernur jenderal selalu diikuti oleh banyak orang. Sehingga pada akhirnya pendopo tersebut dinamai “Pesanggrahan Harja Purna”.

Baca Juga: Museum Batik Yogyakarta: Kolase Warisan Leluhur dalam Berbagai Motif dan Corak

pesanggrahan ambarrukmo
Potret Bagian Dalam Pendopo Agung

Perkembangan dan perubahan fungsi Pesanggrahan Ambarrukmo tidak lepas dari perubahan politik, ekonomi, maupun pemerintahan di Kasultanan Yogyakarta. Pada tahun 1877, Sultan Hamengku Buwono VI, pendiri Pesanggrahan Harja Purna, meninggal, sehingga digantikan dengan pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII yang berjalan dengan damai. 

Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII, Yogyakarta memasuki zaman baru dengan mulai masuknya sistem kapitalisme perkebunan dan teknologi modern. Sultan Hamengku Buwono VII membuka investasi asing di bidang perkebunan, yang mengubah ekonomi kerajaan. Keuntungan ekonomi ini digunakan untuk membangun serta memperluas Pesanggrahan Harja Purna. Pembangunan serta perluasan ini membuat Pesanggrahan semakin mirip dengan Kraton, dan akhirnya dinamai “Kedaton Ambarrukmo”.

Pada perjalanannya pengalihfungsian Pesanggrahan Harja Purna dari tempat penyambutan tamu kerajaan menjadi tempat kediaman juga didorong oleh perubahan tata cara penyambutan tamu dari kerajaan. Sejak adanya rel kereta api dan stasiun kereta api di Yogyakarta, penyambutan tamu tidak lagi dilakukan di Pesanggrahan Harja Purna, melainkan di Stasiun Tugu. 

Seiring berjalannya waktu, Sultan Hamengku Buwono VII akhirnya mengundurkan diri dari tahta pada tahun 1921 dan memilih tinggal di Pesanggrahan Ambarrukmo. Putranya, Sultan Hamengku Buwono VIII, menggantikannya sebagai raja. Keputusan ini merupakan langkah yang penting dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta, sehingga Pesanggrahan Ambarrukmo tetap berperan sebagai tempat penting dalam kehidupan Sultan beserta keluarganya.

Baca Juga: The Gateway of Java Kaping Papat: Membuka Jendela Kearifan Lokal Yogyakarta

Lokasi Pesanggrahan Ambarrukmo

balekambang ambarrukmo
Potret Balekambang Ambarrukmo

Kini, Pesanggrahan Ambarrukmo tetap berdiri sebagai saksi bisu dari berbagai peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Tempat ini memiliki nilai sejarah yang besar dan masih memancarkan pesona kebudayaan Jawa yang kaya. Jika berencana melakukan perjalanan ke Yogyakarta, sempatkan waktu untuk mengunjungi destinasi wisata Pesanggrahan Ambarrukmo, sehingga bisa merasakan langsung atmosfer sejarah yang kental di tempat ini.

Lokasi Pesanggrahan berada di tengah kawasan Royal Ambarrukmo Hotel dan Plaza Ambarrukmo yang berada di Jalan Laksda Adisucipto No.81, Ambarukmo, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dapatkan informasi selengkapnya mengenai Pesanggrahan Ambarrukmo serta event budaya di Yogyakarta melalui Instagram resmi @ambarrukmo.

Share the Post:

OTHER STORIES

Memilih hotel yang nyaman menjadi hal penting yang harus diperhatikan para traveller sebelum berlibur Jika Jogja menjadi

Yogyakarta merupakan paket lengkap untuk wisatawan yang mencari berbagai tujuan wisata budaya sejarah hingga berbelanja Ada banyak

Kedhaton Ambarrukmo adalah satu dari sekian bangunan bersejarah bagi pemerintahan Yogyakarta yang menyimpan banyak cerita dan jejak

Royal Ambarrukmo Yogyakarta tak hanya menjadi hotel bintang 5 terbaik di Jogja namun dikenal juga sebagai cagar