Pendopo Kedhaton Ambarrukmo merupakan bagian dari situs sejarah abad ke-18 yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Berusia lebih dari 200 tahun, membuat bangunan ini menyisakan banyak kepingan kejayaan tempo dulu yang kini menjadi sebuah mahakarya istimewa untuk dilestarikan.
Pendopo adalah bangunan bangunan transfromasi sejarah, yang mengekspresikan bagaimana visi kehidupan masyarakat Jawa terdahulu. Sama halnya dengan bangunan yang ada di Keraton Yogyakarta, Pendopo Kedhaton Ambarrukmo menggunkaan satu cara pandang yang sama itu Konsep Triloka Buana.
Konsep tersebut digunakan untuk menata bagaimana arsitektur pendopo yang dikenal sarat akan makna dan filosofi kehidupan. Mari mengenal lebih dalam keindahan arsitektur Pendopo Kedhaton Ambarrukmo secara utuh.
Daftar Isi
Mengenal Konsep Triloka Buana dalam Arsitektur Pendopo Kedhaton Ambarrukmo

Secara arsitektur dan struktur, pendopo memiliki 4 tiang utama (Saka Guru) yang merupakan simbol kekuatan 4 mata arah angin. Dirangkum dari beberapa sumber, terdapat kepercayaan tentang Keblat Papat, Lima Pancer, yang berarti 4 Saka Guru tersebut adalah penghalang adanya bencana, karena memiliki sebuah titik singgung yang menjaga keseimbangannya.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Konsep Triloka Buana menjadi pondasi filosofis yang memiliki arti keseimbangan di antara 3 dunia berbeda yaitu Svarloka (Dunia Atas/Dewa), Bhuvarloka (Dunia untuk yang Disucikan), Bhurloka (Dunia Manusia).
Sebelum diadaptasi ke bangunan seperti pendopo, dulunya Konsep Triloka Buana digunakan untuk membangun kompleks peribadatan seperti candi. Penerapannya dalam konsep bangunan pendopo pun dapat dilihat dari strukturnya. Bagian bawah pendopo (lantai) disebut sebagai Palemahan/Bhurloka, kemudian pada bagian tengah disebut Badan/Bhuvarloka, dan bagian atas disebut Panuwunan/Svarloka.
Bangunan Pendopo Agung Kedhaton Ambarrukmo saat ini juga menggunakan konsep Triloka Buana, disertai berbagai ornamen-ornamen pada tiap sisinya. Menilik sejarahnya, bangunan pendopo dulunya digunakan oleh Sultan Hamengku Buwono VII untuk menyambut tamu-tamu kerajaan yang datang ke Yogyakarta.
Namun lambat laun, area Keraton Ambarrukmo semakin diperlebar dan digunakan oleh keluarga kerajaan sebagai tempat tinggal. Keberadaan Pendopo Agung Kedhaton Ambarrukmo saat ini menjadi situs bersejarah yang terus dilestarikan.
Ornamen Bangunan Pendopo Kedhaton Ambarrukmo
Ornamen-ornamen yang ada di dalam Pendopo Agung Ambarrukmo adalah bentuk pesan hidup yang tersirat di balik ukiran, lekuk, serta warna. Setiap ornamen memiliki makna filosofisnya sendiri yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Agar budaya bisa terus selalu diingat dan kekal, berikut adalah ragam hias ornamen yang terdapat di Pendopo Agung Ambarrukmo yang masih terjaga:
Putri Mirong

Putri Mirong adalah ornamen di tiang penyangga pendopo yang menggambarkan seorang putri sedang duduk dari samping. Makna filosofis yang ada dari ornamen ini adalah menandakan kesejahteraan, kemakmuran, hingga kesuburan yang diukir dengan motif kaligrafi mim, ha mim, dal (Muhammad).
Umpak
Umpak atau dikenal juga dengan Ompak/Padma adalah bagian di bawah tiang penyangga yang memiliki lambang Tuhan sebagai sang pencipta bumi dengan stilisasi motif kaligrafi mim, ha, mim, dal (Muhammad).
Sorot
Sorot memiliki arti sinar (cahaya), melambangkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Ornamen ini ada di bagian tiang dalam pendopo yang distilisasi motif kaligrafi yang sama yaitu mim, ha, mim, dal (Muhammad). Beberapa sumber menafisrkan juga apabila Sorot memiliki tiga tingkatan makna filosofis dalam kehidupan manusia saat itu yakni iman, islam, dan ihsan.
Tumpal
Tumpal adalah ornamen berbentuk segitiga sama sisi yang memiliki pola berderet. Warna ornamen ini biasanya didominasi dengan warna emas hijau dan guratan merah yang menggambarkan sebuah sinar keagugan Tuhan. Selain itu, Tumpal juga memiliki beberapa sebutan lainnya seperti Banyu, Tumetes, Untu Walang, Saton, dan Tlacapan. Lokasi Tumpal terletak di pertemuan tiang penyangga dan juga tiang bagian atas pendopo, yang berbentuk layaknya huruf “T”.
Lung

Lung atau yang disebut juga sebagai Suluran merupakan motif yang memiliki dua makna yakni “Lung-tinulung” atau tolong menolong dalam kebaikan, serta “Ulung-ulung” yang mencerminkan bahwa setiap manusia harus bersifat dermawan.
Ceplok Melati
Ceplok Melati atau Wajikan adalah ornamen yang terinspirasi dari bunga melati. Dalam kepercayaan Jawa, melati memiliki filosofi yaitu “Rasa melat saka njero ati” yang berarti berkata jujur dari dalam hati ketika akan menyampaikan sesuatu. Ornamen Ceplok Melati dapat dijumpai di pangkal tiang pendopo dengan warna ems dan juga guratan merah.
Tumpang Sari

Bagian dari pendopo selanjutnya adalah Tumpang Sari yang berarti jumlah tumpukan kayu penyangga atap pendopo. Biasanya Tumpang Sari dibuat dalam jumlah ganjil seperti 3,5,7, dan 9. Masyarakat Jawa percaya bahwa angka ganjil memiliki memiliki peruntungan yang lebih baik.
Mayangkara
Mayangkara adalah ornamen penolak bala serta menjauhkan dari bala bencana. Ornamen tersebut terletak di bagian Tumpang Sari yang ada di bagian penyangga atap. Nama Mayangkara diambil dari sosok pewayangan yang juga bernama sama.
Lowo Gumathung
Dalam bahasa Jawa “Lowo Gumathung” memiliki arti sebagai “Kelelawar yang bergelantungan”. Hal tersebut secara tidak langsung menggambarkan bagaimana ukiran Lowo Gumathung ini dipahat, karena posisinya hampir sama denngan kelelawar yang biasanya bergantung 180 derajat di dalam goa.
Namun secara bentuk, masyarakat Jawa juga menamainya dengan “Nanasan”, diambil dari bahasa Arab “Annas” yang berarti manusia. Filosofi yang diusung dalam ornamen ini adalah untuk bisa menikmati indahnya kehidupan, manusia harus membangun hubungan baik antar sesamanya juga.
Dhadhapeksi

Dhadhapeksi adalah ornamen yang mengedepankan estetika serta keindahan. Ukiran tersebut terletak di langit-langit pendopo, berada persisi di titik tengah antara garis vertikal dan horizontal. Makna yang dimiliki ornamen Dhadhapeksi adalah bagaimana kebaikan akan mengantarkan kita dalam kemudahan lainnya dalam hidup.
Kedhaton Ambarrukmo hari ini tetap memegang teguh nilai luhur yang ditanamkan sejak pertama kali berdiri. Manunggaling Kawula Gusti (Bersatunya diri dengan Tuhan Yang Maha Esa) dan Memayu Hayuning Bawana (Menjaga serta hidup berdampingan dengan alam dengan memperindahnya).
The Gateway of Java, sebuah komitmen Ambarrukmo menjadi pintu gerbang untuk mengenal Yogyakarta dan terlebih dalam tentang Jawa.