Jelajah Abad Samudera: Eksplorasi Keindahan Alam Yogyakarta di Gunungkidul

Jelajah Abad Samudera merupakan sebuah petualangan yang dilakukan oleh Ambarrukmo untuk menjelajahi sudut-sudut baru di Gunungkidul. Dari sekian banyak wilayah di Yogyakarta, Gunungkidul memiliki sebuah magnet yang tak tergantikan, sehingga membuat siapapun tidak akan pernah puas untuk mengagumi keindahannya.

Sudah menjadi rahasia umum apabila Gunungkidul dikenal dengan kabupaten yang memiliki deretan pantai terindah di Jogja. Dengan waktu tempuh 1,5 jam dari pusat kota, wisatawan akan disuguhkan dengan panorama perbukitan koral yang menghadap langsung ke samudera lepas. 

Wisatawan lokal hingga mancanegara pun silih berganti berdatangan ke Gunungkidul untuk melihat secara langsung bagaimana pesona alamnya. Kali ini, Ambarrukmo akan mengajak kamu untuk mengarungi sisi lain dari Gunungkidul bersama dalam Jelajah Abad Samudera.

Mengawali Langkah di Geopark Gunungsewu

pantai ngobaran gunungkidul
Jelajah Abad Samudera di Gunungkidul

Gunungkidul merupakan kabupaten yang masuk ke dalam area Taman Bumi Global (Geopark) Gunungsewu yang ditetapkan oleh UNESCO. Secara geografis, Geopark Gunungsewu melintang di tiga kabupaten dalam tiga provinsi yaitu Kabupaten Gunungkidul (Yogyakarta), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), dan Kabupaten Pacitan (Jawa Timur) dengan luas 1,500 kilometer persegi.

Sebagai destinasi wisata yang dikenal secara global, Gunungsewu menawarkan keberagaman jenis hayati, batuan, dan morfologi langka. Tak heran jika taman bumi tersebut menjadi primadona tersendiri untuk mereka para wisatawan pencinta alam.

Potensi geologi yang dimiliki Geopark Gunungsewu membawa dampak domino positif untuk sektor pariwisata di sekitarnya. Berbagai destinasi wisata lainnya pun mendapatkan sorotan berkat capaian tersebut dan ada harapan besar bahwa dalam beberapa tahun ke depan akan lebih banyak peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke Gunungkidul.

Selisik Kepingan Surga dalam Jelajah Abad Samudera di Gunungkidul

jelajah abad samudera
Jelajah Abad Samudera di Gunungkidul

Jelajah Abad Samudera adalah program swadaya dari warga Gunungkidul yang didukung oleh Ambarrukmo Group. Program tersebut menawarkan pengalaman baru bagi wisatawan untuk berlibur di Gunungkidul. Perpaduan sempurna antara budaya, keindahan alam, serta keberagaman masyarakat menjadikan Gunungkidul adalah sebuah permata yang harus dijaga.

Perjalanan dimulai pada sebuah desa bernama Kanigoro yang berlokasi di sisi barat Gunungkidul. Nyawiji (jadi satu) adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan bagaimana keberagaman, keselarasan, dan keharmonisan masyarakat dengan alam menemukan titik seimbangnya. 

Baca Juga: Trinity Sport Tourism 2024: Perkuat Citra Yogyakarta sebagai Destinasi Unggulan

Nyawiji ning Ati, Lathi, lan Pakarti – Menjadi Satu dalam Hati, Ucap, dan Sikap

jelajah abad samudera
Potret Upacara Melasti di Gunungkidul

Terdapat beberapa hal menarik yang bisa ditemukan di kawasan Kanigoro. Di Pantai Ngobaran, terdapat sebuah pura bernama Pura Segara Wukir yang menjadi tempat beribadah umat Hindu di Gunungkidul. Di sinilah lokasi umat Hindu melaksanakan beberapa prosesi keagamaan atau upacara adat mereka, salah satunya adalah Melasti.

Masih dalam cakupan area yang sama, terdapat sebuah Joglo yang menjadi tempat berkumpulnya para pengikut kepercayaan Kejawen dan masih terlihat sangat kokoh hingga sekarang. Di sisi lain, terdapat sebuah candi yang didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X serta Masjid Aolia yang menjadi masjid berlantai pasir di kawasan Pantai Ngobaran.

Seluruh kepercayaan masyarakat setempat saling lebur menjadi satu dalam budaya Guyub dan toleransi yang tinggi. Keseimbangan tiap elemen tersebut menjadi upaya nyata dalam mewujudkan cinta kasih sebagai makhluk hidup dengan alam dan sesama makhluk lainnya.

Urip saka Lakuning Ombak ing Segara – Hidup dari Laju Ombak Samudera

jelajah abad samudera
Potret Nelayan di Kanigoro Gunungkidul

Laut jadi sebuah hal yang tak terpisahkan bagi seluruh masyarakat Gunungkidul. Selain membuatnya menjadi destinasi pantai Jogja yang paling dicari, laut juga menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar warganya. 

Saat sinar mentari belum terlihat di ufuk timur, para nelayan sudah memulai harinya dengan melaut. Tradisi melaut merupakan sebuah warisan nenek moyang yang masih terus lestari sampai sekarang. Masyarakat Gunungkidul meyakini bahwa kegiatan ini adalah bagian dalam menjaga “Pintu Gerbang Selatan” mereka.

Ketika cahaya matahari sudah menyorot, para nelayan pun akan kembali ke daratan sembari membawa hasil tangkapannya. Pasar ikan menjadi lokasi utama yang dituju nelayan di mana akan terjadi berbagai aktifitas jual beli, tawar menawar, hingga bercengkrama dalam satu waktu. Di setiap sudut pantai Gunungkidul, kita juga bisa dengan mudah menemukan berbagai hidangan laut yang segar tersaji nikmat dari tangkapan nelayan. 

Ki Kuwat Hadi Samono
Potret Ki Kuwat Hadi Samono

Tak hanya laut yang jadi sumber mata pencaharian, segelintir masyarakat Gunungkidul juga menggantungkan asa mereka dalam kesenian. Ki Kuwat Hadi Samono merupakan satu-satunya dhalang yang tinggal di Kanigoro dan sudah memainkan wayang kulit sejak usianya masih muda.

Kesempatan bertemu secara langsung dengan Ki Kuwat Hadi Samono memperlihatkan bagaimana tulusnya beliau mengemban tugas mulia ini. Di usianya yang tak lagi muda, semangat Ki Kuwat Hadi Samono masih terus membara untuk melestarikan budaya. Beliau adalah satu dari sekian tokoh lainnya di Gunungkidul yang masih berusaha merawat kebudayaan Jawa agar tak hilang tergerus jaman.

Baca Juga: Museum Batik Yogyakarta: Kolase Warisan Leluhur dalam Berbagai Motif dan Corak

Amanca Rupa Tanpa Kelangan Werna – Berganti Rupa Tanpa Kehilangan Warna

Rumah Joglo dengan Talang Air
Rumah Joglo Tradisional di Gunungkidul

Pemeliharaan budaya serta tradisi tak hanya dilakukan masyarakat Gunungkidul lewat tindakan saja, namun juga melibatkan seni arsitektur. Salah satu yang bisa dilihat dengan mata telanjang adalah bagaimana rumah tradisional di Gunungkidul menggunakan sebuah aksen khusus berupa talang air di bagian atap mereka.

Rumah Joglo milik Pak Mulyakno menjadi contoh bagaimana beliau tetap mempertahankan gaya arsitektur tradisional ditambah dengan jalur-jalur talang air. Bila dilihat dari dekat, talang air tersebut dihiasi dengan elemen Gunung Wayang dan Garuda Pancasila di tiap sisinya. Talang air ini digunakan pada banyak rumah tradisional di Gunungkidul karena berfungsi untuk menjaga ketersediaan air di saat musim kemarau.

Saat rintik hujan turun dari langit, air tersebut akan turun melalui talang-talang air yang berada di atap dan akan jatuh ke area penampungan air. Umumnya, masyarakat Gunungkidul akan membangun sebuah kolam atau area khusus yang menjadi tempat penampungan air ketika musim hujan tiba.

Pasalnya, Gunungkidul hingga saat ini masih sering dihantui dengan isu kekeringan air saat musim kemarau. Adanya sistem talang air tradisional ini sangat membantu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat menghadapi musim kemarau..

Budaya yang hadir di tengah masyarakat Gunungkidul di atas, sedikit banyak adalah hasil campur tangan sejarah dari Prabu Brawijaya V. Pada masa awal masehi, Prabu Brawijaya V pernah menjadikan Gunungkidul sebagai tempat persembunyiannya. Beberapa wilayah di kabupaten ini bahkan dipercaya sebagai tempat petilasan sakral dan sangat dijaga kesuciannya oleh masyarakat.

Jelajah Abad Samudera merupakan ekspedisi petualangan yang akan menyusuri napak tilas Prabu Brawijaya V di Gunungkidul. Pengembaraan Prabu Brawijaya V di Gunungkidul telah Ambarrukmo rangkum menjadi sebuah rangkaian wisata Gunung Kidul yang satu jalur dengan berbagai keseruan di dalamnya.

Pengalaman Napak Tilas Prabu Brawijaya V di Gunungkidul

jelajah abad samudera
Potret Senja di Pantai Ngobaran

Sebagai keturunan terakhir dari Kerajaan Majapahit (1464-1478 M), Prabu Brawijaya V datang ke Gunungkidul untuk mengasingkan diri dari kejaran Raden Patah. Beberapa napak tilas peninggalan Prabu Brawijaya V dapat disaksikan di Kanigoro, salah satunya adalah Pura Segara Wukir yang berlokasi di Pantai Ngobaran. 

Daya tarik sejarah inilah yang menjadikan Pantai Ngobaran menjadi wisata pantai Jogja yang banyak dikunjungi wisatawan dalam beberapa tahun terakhir. Bagi kamu yang tertarik untuk ikut menelusuri bagaimana jejak sejarah nusantara tempo dulu di Gunungkidul, ini adalah kesempatan yang tepat untuk mengikuti wisata Jelajah Abad Samudera.

Jelajah Abad Samudera dari Ambarrukmo menyediakan beberapa paket wisata yang bisa jadi opsi dalam menghabiskan waktu liburan di Jogja. Simak detil perjalanan wisatanya berikut ini:

Paket WisataPaket MadyaPaket TumenggungPaket Adipati
HargaRp500.000 per orangRp750.000 per orangRp1.500.000 per orang
Minimal PaxMinimum 9 orangMinimum 9 orangMinimum 9 orang
FasilitasGuide Sesepuh PantaiGuide Sesepuh PantaiGuide Sesepuh Pantai
Transportasi (Mobil)Transportasi (Mobil)Jeep Adventure 
Tiket Masuk 7 PantaiTiket Masuk 7 PantaiTiket Masuk 7 Pantai
Toilet 7 PantaiToilet 7 PantaiToilet 7 Pantai
SnackSnack & Kelapa MudaSnack & Kelapa Muda
Air MineralAir MineralAir Mineral
Makan Malam di PantaiMakan Malam di PantaiMakan Malam di Pantai
Foto dan Video DokumentasiMusik AkustikMusik Akustik
MerchandiseFoto dan Video DokumentasiFoto dan Video Dokumentasi
MerchandisePertunjukkan Reog/Gejog Lesung
Foto dan Video Dokumentasi
Merchandise
Paket Wisata Jelajah Abad Samudera

Itinerary Jelajah Abad Samudera di Gunungkidul

Berikut ini adalah rincian rencana perjalanan (itinerary) untuk tur wisata Jelajah Abad Samudera di Gunungkidul:

  1. Peserta dijadwalkan tiba di Joglo Limasan Simbah pukul 14.00 WIB dan akan disambut dengan teh poci gula batu serta makanan ringan.
  2. Kemudian, peserta akan mendapatkan briefing mengenai peraturan dalam perjalanan dan sejarah ketujuh pantai dari sesepuh desa: Mbah Karso, Mbah Mangun, dan Mbah Winar.
  3. Selama perjalanan, peserta akan dipandu oleh sesepuh desa dalam menceritakan sejarah pantai sembari berinteraksi dengan masyarakat pesisir.
  4. Perjalanan dengan mobil atau jeep akan dimulai pukul 15.00 WIB di Pantai Widodaren.
  5. Selanjutnya, peserta akan berjalan kaki menuju 5 pantai lainnya yaitu Pantai Ngrawah, Bopeso, Torohudan, hingga Ngrenehan. Terakhir, peserta akan kembali melanjutkan perjalanan menggunakan jeep ke Pantai Ngobaran.
  6. Setibanya di Pantai Ngobaran, peserta akan didampingi oleh abdi dalem untuk mengunjungi beberapa tempat seperti Pura Segara Wukir, Candi Sri Sultan Hamengkubuwono X, Tebing Pertapaan, dan Mata Air Suci Sendang Sentono.
  7. Perjalanan akan berakhir di Pantai Nguyahan, di mana peserta bisa menikmati matahari terbenam, makan malam, dan pertunjukkan seni.

Baca Juga: The Gateway of Java Kaping Papat: Membuka Jendela Kearifan Lokal Yogyakarta

Tertarik untuk ikut berwisata bersama Jelajah Abad Samudera? Hubungi langsung Bapak Suyatno di 0853-2891-4193. Kamu juga bisa menantikan berbagai informasi mengenai wisata, budaya, dan sejarah menarik dari Yogyakarta dengan mengikuti Instagram Ambarrukmo @ambarrukmo.

Share the Post:

OTHER STORIES

Memilih hotel yang nyaman menjadi hal penting yang harus diperhatikan para traveller sebelum berlibur Jika Jogja menjadi

Yogyakarta merupakan paket lengkap untuk wisatawan yang mencari berbagai tujuan wisata budaya sejarah hingga berbelanja Ada banyak

Kedhaton Ambarrukmo adalah satu dari sekian bangunan bersejarah bagi pemerintahan Yogyakarta yang menyimpan banyak cerita dan jejak

Royal Ambarrukmo Yogyakarta tak hanya menjadi hotel bintang 5 terbaik di Jogja namun dikenal juga sebagai cagar