Burning Down the Feet, Kolaborasi Kreatif Antar Seniman Visual dan Musik Melalui Media Sandal

Burning Down the Feet, Kolaborasi Kreatif Antar Seniman Visual dan Musik

Ketika dunia seni, fashion, dan musik bersatu dalam sebuah kolaborasi yang unik, hasilnya seringkali membawa kita pada sesuatu yang menakjubkan. Pada 19 September 2023 kemarin Ambarrukmo berkesempatan menjadi panggung kolaborasi seni interdisiplin yang bertajuk “Burning Down The Feet.”

Proyek “Burning Down the Feet” merupakan gagasan dari Greedy Dust, sebuah label musik yang telah berkiprah sejak tahun 2015, bersama dengan Living Society. Pameran seni “Burning Down The Feet” berhasil digelar di WhatTheDeck! yang terletak di lantai sebelas PORTA by Ambarrukmo, mulai tanggal 19 hingga 24 September 2023. Acara ini memberikan pengunjung kesempatan untuk menikmati sepuluh karya seni kolaborasi yang mengagumkan dari sepuluh seniman dan band.

Burning Down the Feet Jadi Nafas Baru untuk Kreativitas Generasi Muda

burning down the feet
Instalasi Burning Down the Feet

Pengunjung bisa menyaksikan pembukaan pameran seni ini yang diiringi oleh penampilan musik kontemporer dari DAAN (Kelana Swara Ambarrukmo) serta Sonlutus yang membangkitkan semangat dengan DJ set yang menghentak asik di setiap sudut ruangan. Seluruh penjuru ruangan penuh dengan antusiasme dan ekspektasi, seolah-olah merasakan getaran kreativitas yang memenuhi udara.

Tapi apa sebenarnya tujuan dari proyek kolaborasi “Burning Down The Feet” ini? Tujuannya yakni menciptakan ruang kreatif yang memadukan seniman dari dunia musik dan seni visual di Indonesia. Menariknya media yang dipilih untuk mengekspresikan karya dan imajinasi para seniman adalah sandal dari Hijack Sandals.

Seolah-olah sandal ini menjadi kanvas utama bagi ekspresi mereka tentang seni. Sepuluh seniman visual berbakat dengan tekad bulat berkolaborasi dengan sepuluh band untuk menghadirkan interpretasi mereka dalam setiap pasang sandal yang telah disiapkan.

Berbagai Seniman Bergabung Jadi Satu dalam Burning Down the Feet

Seniman visual dan band yang terlibat dalam proyek pameran seni “Burning Down The Feet.” Conbini dari Malang bersatu dengan Prejudize dari Bandung, menciptakan semangat kolaborasi yang memikat. Dizbones dari Malang berpadu dengan Enola dari Surabaya, menghasilkan harmoni visual yang mengagumkan.

Baca Juga :  Tradisi Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Surakarta, Melebur dalam Keberagaman Budaya Penuh Makna

Fr3lan dari Palu bersatu dengan Peach dari Medan dalam sebuah kreasi yang menggetarkan jiwa. Haiza Putti dari Jakarta merangkul Kinder Bloomen, juga dari Jakarta, dalam sebuah karya yang menawan. Ivania Nabila yang berasal dari Yogyakarta memadukan kreativitasnya dengan Dazzle dari Malang, menghadirkan sentuhan magis dalam seni visual.

Namun, pengalaman ini tidak hanya sekadar pameran seni interdisiplin yang biasa saja karena pada Jumat, 22 September 2023. Empat DJ asal Yogyakarta, yakni Ipam, Gibran, Timmy, dan Ayash, memainkan musik yang memikat, membuat kita terhanyut dalam nuansa musikal yang luar biasa.

Sekali lagi, Ambarrukmo telah membuktikan bahwa berbagai disiplin seni dapat bersatu dan menciptakan kolaborasi yang begitu menarik. “Burning Down The Feet” adalah bukti nyata bahwa kolaborasi seni dapat menyatu dalam semua aspek yang tertuang dalam bentuk maha karya yang inspiratif.

Share the Post:
OTHER STORIES
Sejarah Pesanggrahan Yogyakarta
Pesanggrahan adalah tempat peristirahatan, persinggahan, atau rekreasi yang digunakan oleh raja dan keluarga Keraton Yogyakarta
Event Juli Yogyakarta
Event Juli 2026 di Yogyakarta mencakup berbagai festival, pertunjukan budaya, hingga acara hiburan yang berlangsung di berbagai
Sejarah Islam di Yogyakarta
Sejarah Islam di Yogyakarta terutama berakar pada perkembangan Kesultanan Mataram Islam di Kotagede pada akhir abad ke-16
Museum Keraton Solo
Museum Keraton Solo adalah museum khusus yang terletak di dalam kompleks istana Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah.