Sejarah Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Hotel Bintang 5 Penuh Nilai Historis

Royal Ambarrukmo Yogyakarta tak hanya menjadi hotel bintang 5 terbaik di Jogja, namun dikenal juga sebagai cagar budaya serta bangunan bersejarah. Terletak di pusat Kota Yogyakarta, Royal Ambarrukmo masuk ke dalam bagian perjalanan Yogyakarta di era penjajahan hingga akhirnya berdiri sebagai sebuah mahakarya dari Keraton Yogyakarta.

Berdiri di atas bangunan berusia lebih dari 78 tahun, Royal Ambarrukmo terus mempertahankan setiap detil otentik serta berbagai tradisi yang menjadi identitas utama bangsawan Keraton Yogyakarta tempo dulu. Maka tak heran jika banyak orang ingin mempelajari lebih dalam bagaimana sejarah Royal Ambarrukmo Yogyakarta sehingga berhasil menjadi sebuah ikon yang tak ternilai harganya. Simak sejarah lengkap tentang Royal Ambarrukmo Yogyakarta berikut ini.

Baca Juga: Menelusuri Asal Usul Pesanggrahan Ambarrukmo dalam Sejarah

Hotel Royal Ambarrukmo Pernah Menjadi Pesanggrahan Raja dari Kasultanan Yogyakarta

Potret Ambarrukmo Palace Hotel Tempo Dulu

Sebelum dibangun menjadi hotel, Royal Ambarrukmo dulunya merupakan bagian dari Gandok Pesanggrahan Ambarrukmo. Gandok adalah bangunan memanjang yang memiliki kamar-kamar dan biasanya terletak di belakang area utama (griya wingking). Sultan Hamengku Buwono II menamakan area tersebut sebagai “Jenu” sebelum beralih menjadi “Ambarrukmo”, “Hambarrukmo”, atau “Ngambarrukmo”.

Kata “Ambarrukmo” sendiri diambil dari bahasa Jawa kuno yang teridir dari kata “Ambar” yang berarti wangi dan “Rukmo” berarti emas. Jadi, Ambarrukmo memiliki arti sebuah tahta keindahan wangi emas yang sangat bernilai.

Salah satu momen penting yang tercatat pernah terjadi di Pesanggrahan Ambarrukmo adalah pada kunjungan Deandles pada 29 Juli-2 Agustus 1809. Sebelumnya, Daendels meminta agar Sultan Hamengku Buwono II menyambutnya di luar kerajaan, akhirnya Sultan menyepakati untuk bertemu di salah satu kebun raja di Jenu. Pada saat inilah Sultan membangun sebuah pendopo yang difungsikan untuk menyambut tamu kerajaan di luar area istana.

Tahun 1857-1859 pendopo mengalami perluasan untuk menyambut kunjungan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang hendak berkunjung ke Keraton Yogyakarta bersama prajuritnya. Hingga akhirnya tempat ini dinamai menjadi Pesanggrahan “Harja Purna”.

Perubahan Nama Pesanggrahan Harja Purna menjadi Kedhaton Ambarrukmo

Potret Balekambang Tempo Dulu

Berselang beberapa tahun, Sultan Hamengku Buwono VI selaku pendiri Pesanggrahan Harja Purna meninggal dunia sehingga menyebabkan perubahan politik dan pemerintahan di Kasultanan Yogyakarta.

Posisinya digantikan oleh Sultan Hamengku Buwono VII yang secara resmi naik tahta pada 1877. Sultan Hamengku Buwono VII lalu melakukan pemugaran Pesanggrahan Harja Purna yang berlangsung mulai tahun 1859 hingga 1897.

Setelah pemugaran selesai, Sultan Hamengku Buwono VII meminta adiknya, Gusti Adipati Mangkubumi untuk memberi nama baru bagi Pesanggrahan Harja Purna. Akhirnya, “Kedhaton Ambarrukmo” terpilih menjadi nama baru area ini karena bertepatan dengan perubahan fungsi tempat. Jika dulunya Pesanggrahan Harja Purna hanya digunakan untuk tempat beristirahat, Sultan Hamengkubuwono VII menjadikannya sebagai tempat tinggal raja.

Peresmian Kedhaton Ambarrukmo secara resmi dilakukan Sultan Hamengku Buwono VII pada tahun 15 Oktober 1989 dengan melakukan perjamuan makan para elit kerajaan. Bersumber dari sejarah yang ada, terdapat Adipati Paku Alam, jajaran pejabat pemerintahan kolonial Belanda, dan para pengusaha perkebunan Eropa yang turut diundang dalam perjamuan tersebut. 

Kedhaton Ambarrukmo Sepeninggalan Sultan Hamengku Buwono VII

Pendopo Agung Kedhaton Ambarrukmo

Pada tanggal 29 Desember 1921, Sultan Hamengku Buwono VII meninggal dunia dan dikebumikan pada 1 Januari 1922 di Makam Raja Imogiri. Sepeninggalannya, Kedhaton Ambarrukmo kemudian menjadi tempat tinggal Gusti Kanjeng Ratu Kencana bersama kedua putranya yaitu Gusti Pangeran Harya Tejakusuma dan Gusti Pangeran Harya Mangkukusuma.

Dalam berbagai naskah sumber sejarah, Gusti Kanjeng Ratu Kencana menjadi penghuni terakhir Kedhaton Ambarrukmo. Hingga pada tahun 1941 menjelang kemerdekaan Indonesia, Sultan Hamengku Buwono IX kembali menghidupkan Kedhaton Ambarrukmo, namun kontrol utama penggunaan tempat tersebut tidak sepenuhnya ada di tangah pihak Keraton.

Menurut sumber tertulis, Kedhaton Ambarrukmo pernah diduduki oleh pemerintah Belanda untuk digunakan sebagai markas tentara selama periode 1945-1949. Setelahnya, Kedhaton Ambarrukmo diambil alih oleh Pemerintah Indonesia untuk digunakan sebagai perumahan sementara bagi pegawai kantor pos hingga tahun 1950.

Selain itu, Kedhaton Ambarrukmo juga dimanfaatkan untuk kepentingan publik lainnya seperti menjadi kantor administrasi Bupati Kepala Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman pada periode 1947-1964. Total terdapat lima bupati yang pernah berkantor di Ambarrukmo yaitu:

  • Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat (1945-1947)
  • Kanjeng Raden Tumenggung Prodjodiningrat (1947-1950)
  • Kanjeng Raden Tumenggung Dipodiningrat (1950-1955)
  • Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodiningrat (1955-1957)
  • Kanjeng Raden Tumenggung Murdodiningrat (1959-1974)

Terdapat sebuah monumen penanda yang dibangun di area Kedhaton Ambarrukmo berupa tetenger (monumen) bernama “Panca Hasta” yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Sleman pada Mei 2012 silam.

Fase Pembangunan Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta di Tangan Ir. Soekarno

Royal Ambarrukmo Yogyakarta

Sepanjang kepemimpinannya, Presiden Soekarno membangun beberapa hotel mewah di Indonesia yang difungsikan sebagai magnet wisata yang bisa menjadi sebuah daya tarik. Di Yogyakarta, Hotel Royal Ambarrukmo (Ambarrukmo Palace Hotel) resmi dibangun di atas tanah milik Sultan (Sultan Ground) pada tahun 1966. 

Hotel Ambarrukmo diharapkan bisa menjadi contoh arsitektur yang memadukan gaya internasional dengan kearifan lokal Yogyakarta. Presiden Soekarno menginginkan hotel yang ia bangun untuk menjadi tempat bertemunya objek-objek seni seperti ragam hias, arsitektur, motif, media, kultur, dan warna lokalitas. 

Pembangunan awal Hotel Ambarrukmo didapatkan oleh Presiden Soekarno dari uang pampasan (ganti rugi) dari Jepang serta bantuan dari beberapa negara lainnya.  Kesepakatan mengenai uang pampasan ini muncul saat konferensi perdamaian internasional di San Francisco pada tahun 1951. Konferensi ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mengakhiri permusuhan dengan Jepang.

Dengan bangunan seluas 5,5 hektar, Hotel Ambarrukmo berdiri di sebelah timur Pesanggrahan Ambarrukmo milik Kasultanan Yogyakarta. Sejak pertama kali beroperasi pada tahun 1966, Ambarrukmo Palace Hotel menerima tamu sebanyak 2,890 pada tajun tersebut dan naik berkali-kali lipat di tahun-tahun selanjutnya.

Ambarrukmo Palace Hotel Secara Resmi Menjadi Royal Ambarrukmo Yogyakarta Pada 2011

hotel royal ambarrukmo
Royal Ambarrukmo Yogyakarta

Pada 1 Maret 2004 Ambarrukmo Palace Hotel secara resmi tutup dan mengalami kekosongan di beberapa tahun selanjutnya. Hingga pada tahun 2010, Keraton Yogyakarta menggagas untuk membuka kembali hotel tersebut bersama pengembang PT. Putera Mataram Indah Wisata menjadi Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Setelah satu tahun renovasi dilakukan, Hotel Royal Ambarrukmo secara resmi dibuka pada September 2011.

Saat ini Royal Ambarrukmo Yogyakarta menjadi hotel bintang lima terbaik di Jogja dengan berbagai fasilitas yang lengkap. Royal Ambarrukmo menyediakan 247 kamar yang terdiri dari Deluxe, Premiere, Studio Room, Royal Premiere, Junior Suite, Executive Suite, dan Ambarrukmo Suite dengan private balcony di setiap kamarnya.  Setiap tamu yang menginap di Royal Ambarrukmo Yogyakarta juga bisa menikmati fasilitas lainnya seperti SamaZana Restaurant, Punika Deli Cafe, Royal Club Lounge, Gym, Kolam renang, dan Kids Club.

royal club lounge ambarrukmo
Royal Club Lounge di Royal Ambarrukmo Yogyakarta

Sebagai hotel yang dikenal dengan nilai historisnya, Royal Ambarrukmo akan mengajak semua tamu untuk merasakan langsung bagaimana kehidupan bangsawan Kasultanan Yogyakarta tempo dulu lewat berbagai jenis tradisi yang masih dilestarikan. 

Setiap tamu berkesempatan untuk mengikuti berbagai seremoni Jawa kuno seperti Patehan (Perjamuan Teh Khas Keraton), Ladosan Dhahar (Jamuan Makan Bangsawan Keraton), Jemparingan (Olahraga Panahan Tradisional), dan juga berbagai ragam tari tradisional yang diselenggarakan di Pendopo Agung Kedhaton Ambarrukmo.

Sampai saat ini, Hotel Ambarrukmo masih menjadi salah satu warisan penting bagi Indonesia. Hotel ini bukan hanya tempat menginap, tapi juga sebuah tempat bersejarah yang memuat banyak kisah heroik di dalamnya. 

Baca Juga: Mengungkap Filosofi dan Kekayaan Makna dari Koleksi Wayang Museum Ambarrukmo

Demikian informasi lengkap mengenai sejarah Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta dari era Kasultanan hingga pasca kemerdekaan. Dapatkan pengalaman menginap yang tak terlupakan bersama Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Booking sekarang dan nikmati langsung berbagai fasilitas hotel bintang lima terbaik di Jogja! Jangan lewatkan berbagai informasi terkini seputar wisata, budaya, dan event lainnya di Jogja bersama Ambarrukmo melalui Instagram @ambarrukmo.

Share the Post:

OTHER STORIES

Memilih hotel yang nyaman menjadi hal penting yang harus diperhatikan para traveller sebelum berlibur Jika Jogja menjadi

Yogyakarta merupakan paket lengkap untuk wisatawan yang mencari berbagai tujuan wisata budaya sejarah hingga berbelanja Ada banyak

Kedhaton Ambarrukmo adalah satu dari sekian bangunan bersejarah bagi pemerintahan Yogyakarta yang menyimpan banyak cerita dan jejak

Royal Ambarrukmo Yogyakarta tak hanya menjadi hotel bintang 5 terbaik di Jogja namun dikenal juga sebagai cagar