Biografi Sultan Hamengku Buwono VIII: Sosok Raja Pembaharu di Era Keemasan Keraton Yogyakarta

Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, yang lahir dengan nama Raden Mas Sujadi, adalah Raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada 1921–1939. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Keraton Yogyakarta pada masa kolonial Belanda.

Masa pemerintahannya ditandai oleh perkembangan seni dan budaya Jawa, perhatian terhadap pendidikan, serta pembaruan lingkungan Keraton. Kepemimpinannya juga mencerminkan perpaduan tradisi kerajaan dengan pengaruh modernisasi dan diplomasi budaya pada awal abad ke-20.

Profil dan Silsilah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII

Sultan Hamengku Buwono VIII di Grand Hotel Yogyakarta
Sultan Hamengku Buwono VIII di Grand Hotel Yogyakarta | Source: Instagram @mataramloyalblood

Sri Sultan Hamengku Buwono VIII lahir dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Sujadi pada 3 Maret 1880 di Yogyakarta. Beliau merupakan putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Sebelum menjadi Sultan, GRM Sujadi bergelar Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puruboyo.

Perjalanannya menuju takhta tidak berlangsung langsung karena beberapa calon putra mahkota sebelumnya meninggal dunia atau dicabut gelarnya. Pada 1920, ketika GPH Puruboyo sedang menempuh pendidikan di Belanda, Sri Sultan Hamengku Buwono VII menyampaikan niat untuk turun takhta.

Setelah proses pergantian takhta dipercepat dan GPH Puruboyo kembali ke Yogyakarta, beliau dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada 8 Februari 1921. Masa pemerintahannya berlangsung hingga 22 Oktober 1939, ketika beliau wafat dan kemudian dimakamkan di Astana Saptarengga, Imogiri.

Tonggak Modernisasi dan Kebijakan Pendidikan

Rumah Sakit Panti Rapih
Rumah Sakit Panti Rapih | Source: Facebook: Lengkong Sanggar Ginaris

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921–1939), pendidikan modern menjadi salah satu pendekatan untuk mempersiapkan generasi penerus Keraton menghadapi perubahan zaman dan pemerintahan kolonial Belanda. Sultan menerapkan pola pendidikan yang berbeda dari pendahulunya dengan mendorong putra-putranya belajar di luar lingkungan Keraton dan mengenal sistem pendidikan Barat.

Baca Juga :  Pangeran Diponegoro dan Jejak Perlawanan di Tanah Jawa

Beberapa langkah penting pada masa pemerintahannya meliputi:

  • Pendidikan modern bagi putra Keraton: Pada Maret 1930, Sultan mengirim putranya, GRM Dorodjatun (kelak Sri Sultan Hamengku Buwono IX), bersama kakaknya, B.R.M. Tinggarto, ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Dorodjatun bersekolah di Gymnasium Haarlem sebelum melanjutkan studi Indologie yang mempelajari bidang ekonomi dan hukum di Universitas Leiden.
  • Dukungan terhadap pembangunan fasilitas kesehatan: Sultan mendukung pendirian Rumah Sakit Onder de Bogen, yang kini dikenal sebagai RS Panti Rapih. Keraton menyediakan tanah di Jalan Cik Ditiro untuk pembangunan rumah sakit tersebut, yang secara resmi dibuka oleh Sultan pada 14 September 1929. Sultan juga memberikan sebuah ambulans untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat pribumi.

Pemugaran Keraton dan Warisan Arsitektur Ikonik

Revitalisasi Keraton Yogyakarta
Revitalisasi Keraton Yogyakarta | Source: Facebook: GudegNet

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921–1939), Keraton Yogyakarta mengalami pemugaran besar yang membentuk sebagian besar tampilan kompleks istana seperti yang dikenal saat ini. 

Salah satu perubahan penting terjadi pada Bangsal Siti Hinggil Lor, yang direnovasi pada 1926 dengan penggunaan konstruksi besi dan kolom besi cor dari Eropa, berpadu dengan tata ruang serta ornamen khas Jawa. Pemugaran juga mencakup bangunan penting lain, seperti Gedhong Jene dan Bangsal Manis, yang menjadi bagian dari warisan arsitektur era HB VIII.

Selain pembaruan arsitektur, Keraton tetap menjadi pusat upacara kerajaan dan penerimaan tamu penting. Bangsal Siti Hinggil digunakan untuk prosesi kenegaraan, termasuk penobatan Sultan dan putra mahkota, sedangkan jamuan resmi menjadi bagian dari tradisi penyambutan tamu. Perpaduan tata ruang tradisional, unsur arsitektur Eropa, dan tata jamuan kerajaan mencerminkan cara Keraton mempertahankan identitas budaya sekaligus beradaptasi dengan dinamika awal abad ke-20.

Baca Juga :  Abdi Dalem Keraton: Pengabdian Tulus Menjaga Budaya Jawa

Puncak Kejayaan Seni Pertunjukan dan Kesusastraan

Pertunjukan Seni Wayang Wong
Pertunjukan Seni Wayang Wong | Source: Facebook: Wikipedia

Masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921–1939) menjadi salah satu periode penting dalam perkembangan seni pertunjukan Keraton Yogyakarta. Perhatian besar terhadap seni tari, musik, dan sastra Jawa tercermin dalam penyelenggaraan pertunjukan kerajaan yang megah serta upaya menjaga pakem kesenian agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Salah satu kesenian yang menonjol pada masa ini adalah Wayang Wong, yaitu drama tari yang menggabungkan gerak tari, dialog, musik gamelan, dan cerita dari wiracarita seperti Ramayana dan Mahabharata. Berikut penjelasan lebih lengkapnya mengenai Wayang Wong:

  • Pengembangan seni Wayang Wong: Pada masa HB VIII, pertunjukan Wayang Wong dikenal melalui tata busana yang rumit, riasan karakter, iringan gamelan, serta koreografi yang mengikuti pakem Keraton. Pementasan berskala besar membutuhkan banyak penari dan pendukung, sehingga menjadi wujud kemegahan seni pertunjukan kerajaan sekaligus sarana pewarisan cerita dan nilai budaya Jawa.
  • Pelestarian gamelan dan pusaka Keraton: Gamelan digunakan untuk mengiringi tari, Wayang Wong, dan berbagai upacara kerajaan, sementara pusaka Keraton dirawat sebagai benda yang memiliki nilai sejarah dan simbolis. Keduanya menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dipelihara dan diperkenalkan melalui koleksi serta dokumentasi Keraton Yogyakarta.

Suksesi Tahta dan Warisan bagi Yogyakarta Modern

Meja Kuno Sultan Hameng HB VIII
Meja Kuno Sultan Hameng HB VIII di Keraton Yogyakarta | Source: Tempo

Salah satu warisan penting Sri Sultan Hamengku Buwono VIII adalah persiapan suksesi yang menempatkan pendidikan sebagai bekal kepemimpinan. Putranya, GRM Dorodjatun, kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 18 Maret 1940. 

Di bawah kepemimpinannya, Sultan HB IX berperan penting dalam mendukung kemerdekaan Indonesia, termasuk melalui dukungan Keraton terhadap Republik dan keputusan Yogyakarta menjadi ibu kota sementara Indonesia pada 1946. Peralihan kepemimpinan ini menjadi bagian penting dari perjalanan Kesultanan Yogyakarta menuju era modern.

Baca Juga :  Sultan Hamengku buwono VII: Sejarah dan Babak Baru Yogyakarta

Jejak pemerintahan HB VIII masih dapat ditelusuri melalui kompleks Keraton Yogyakarta, bangunan bersejarah, serta koleksi yang merekam kehidupan kerajaan pada awal abad ke-20. Pengunjung dapat mengenal lebih jauh sejarah dan warisan budaya tersebut melalui museum Keraton, bangunan dengan perpaduan arsitektur Jawa dan Eropa, serta kawasan cagar budaya di Yogyakarta. Peninggalan ini menjadi pengingat akan peran Keraton dalam menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.

FAQ

Apa jasa terbesar Sultan Hamengku Buwono VIII?

Salah satu kontribusi penting Sri Sultan Hamengku Buwono VIII adalah pengembangan seni dan budaya Keraton, terutama seni pertunjukan Wayang Wong, serta pembaruan sejumlah bangunan istana. Beliau juga mendukung pendidikan modern bagi generasi penerus Keraton dan pembangunan fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Onder de Bogen yang diresmikan pada 1929 dan kini dikenal sebagai RS Panti Rapih.

Berapa lama Sultan HB VIII memerintah Yogyakarta?

Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memerintah Kesultanan Yogyakarta dari 8 Februari 1921 hingga 22 Oktober 1939, sekitar 18 tahun 8 bulan. Beliau kemudian digantikan oleh putranya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang dinobatkan pada 1940.

Mengapa masa Sultan HB VIII disebut era keemasan Keraton Yogyakarta?

Masa pemerintahan Sultan HB VIII sering dikaitkan dengan perkembangan seni pertunjukan, pembaruan arsitektur Keraton, dan penggunaan unsur modern dalam kehidupan kerajaan. Pertunjukan Wayang Wong berkembang sebagai seni pertunjukan berskala besar, sementara sejumlah bangunan Keraton diperbarui dengan menggabungkan unsur arsitektur Jawa dan Eropa.

Warisan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menunjukkan bagaimana tradisi Keraton Yogyakarta berkembang seiring perubahan zaman, mulai dari seni pertunjukan, arsitektur, hingga pendidikan dan kesehatan. 

Jejak kepemimpinannya masih dapat ditelusuri melalui bangunan bersejarah dan koleksi budaya Keraton yang bertahan hingga kini. Untuk mengenal lebih dekat sejarah Kesultanan Yogyakarta, Anda dapat mengunjungi Keraton Yogyakarta dan menjelajahi berbagai peninggalan yang merekam perjalanan panjang budaya Jawa.

Jangan lewatkan berbagai informasi terkini seputar wisata, budaya, dan event di Jogja bersama Ambarrukmo melalui Instagram @ambarrukmo atau kunjungi website resmi Ambarrukmo.

Share the Post:
OTHER STORIES
Sultan Hamengkubuwono VII
Sri Sultan Hamengku Buwono VII adalah Sultan Yogyakarta yang memerintah Kesultanan Yogyakarta pada 1877–1921.
Sultan HB IX Dikukuhkan Sebagai Bapak Pramuka
Sultan Hamengkubuwono IX adalah tokoh penting dalam perkembangan Gerakan Pramuka di Indonesia.
Sri Paku Alam VIII
Sri Paku Alam VIII adalah pemimpin Kadipaten Pakualaman yang bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan dukungan kepada
KH Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan adalah ulama dari Kauman Yogyakarta, pendiri Muhammadiyah, dan salah satu tokoh penting dalam sejarah